Kenapa “Aku” bukan “Saya”?


Seberapa banyak dari kita yang sebut diri dengan ‘saya’ waktu berdoa? Saya rasa sedikit. Kebanyakan dari kita akan bilang ‘Tuhan, aku berharap…”, “Tuhan, aku berdoa untuk papa mama,” dan lain sebagainya. Iya kan?

Kenapa bisa begitu?

“Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah.” (Galatia 4:7)

Nah kan. Karena kita memang anak, dan Tuhan adalah Bapa kita. Itu sebabnya kita gunakan sebutan diri “aku” ketimbang “saya.”

Memang sih, secara tata bahasa Indonesia, “saya” digunakan untuk menunjukkan kesopanan. Dan betul sekali, kita harus sopan terhadap Tuhan. Heloh, kalo gua tuhan, gua depak kalo lo ga sopan, keles. Tapi yah, untung saya bukan Tuhan. Dan Tuhan yang asli penyayang banget. Yang bejatnya luar biasa aja masih aja dikasihi, apalagi masalah sepele begini.

Kalau saya sendiri, setiap kali berdoa sebut diri dengan “aku” atau nama kecil saya, Putri. Kadang saya bilang di sela-sela aktivitas, “Tuhan, Putri ngerasa seneng banget hari ini”, atau pas di jalan, “Tuhan, Putri kasihan sama orang di jalan, tolong dia ya.”

Sebetulnya, kita sudah ditetapkan untuk menjadi “anak” bukan “hamba“. Dari hal simple begini saja tanpa kita sadari kita menunjukkan bahwa kita adalah seorang anak loh. Tapi yah, masalahnya kebanyakan kita berhenti sampai disitu. Kita lupa melakukan hal-hal lainnya yang dilakukan oleh seorang anak.

Kalau kita anak, kita suka dekat sama orang tua kita dan bergantung penuh bahkan. Nggak sungkan datang ke mereka untuk sekadar bilang, “Pa, ma, aku mau beli jajan. Minta uang dong.”

Selama ini, kita berlaku seolah Tuhan itu orang lain, jauh gitu dan nggak jawab doa kita lagi. Saat kita merasa begitu, kita akhirnya males datang sama Tuhan. Pikir kita, “ah sama aja, doa nggak doa, hidup yah begini-begini aja.”

Come on, guys. Berlakulah seperti anak. Dimana dalam segala hal, anak itu selalu datang ke orang tua, minta pendapat, atau sekadar minta pelukan.

Tuhan mau supaya kita melakukan itu. Anggap Dia sebagai Bapa, bukan majikan yang nyuruh kita ini itu. Kenapa? Ya supaya kamu bisa tahu jalannya Tuhan untuk hidup kita kaya gimana, dan kita nggak menggerutu melulu ketika jalan yang Dia kasi ke kita nggak sesuai keinginan kita. Ingat kan kalau anak mau main korek api orang tua pasti larang? Sama aja kaya Tuhan. Dia tahu yang paling baik buat kita.

Sekali lagi, saya juga belum sempurna ketika saya bilang begini. Tapi bukan berarti saya nggak memiliki pengalaman sebagai “anak” dan “hamba” ya. Saya pernah jadi “hamba” di hadapan Tuhan, dan rasanya nggak enak. Amplop. Nggak lagi dah. Saya memutuskan untuk kembali menjadi “anak” seperti yang Dia sudah tetapkan. This is the best decision I have ever made.

Kalau ada jalan yang enak, kenapa pilih yang susah? Kalau bisa jadi anak, kenapa harus jadi hamba?

Cheers. God bless!

Jesus and a girl

Tuhan Memang Paling Tahu


Saya yakin nggak banyak yang tahu sekolah ini. Saya pun awalnya nggak tahu. Karena ini sekolah nama besarnya di Malang dan di Semarang cuman cabang. Padahal bagus sih sebetulnya. Mehehe. 😁

Ya. Masuk ke sekolah ini rasanya kaya mimpi. Bukan mimpi yang diharapkan tapi. Karena yah, sekolah ini rasanya opsi terakhir saya. Hahaha. Duh.

Ceritanya, saya harusnya bisa masuk UNDIP, universitas paling populer di Semarang bagi para lulusan SMA Negeri 3 Semarang waktu itu. Agak aneh sih, karena saya melakukan kesalahan kecil tapi fatal yang mengakibatkan saya nggak bisa masuk sana. Cuman salah masuk jurusan tes. Goodness. Itulah yang bikin saya terdampar di Wearnes ini.

Siang itu setelah urus apa gitu di TU (mungkin legalisir rapot), saya duduk terkulai di bawah pohon depan gerbang sekolah. Saya bilang sama Tuhan, “Aku nggak mau malu. Masa iya lulusan SMA paling bergengsi di Semarang harus nganggur setahun?” Kaya film-film Disney fairy tale gitu (treeennngg), tiba-tiba ada mbak-mbak lewat di depan saya dan kasi brosur yang isinya informasi tentang Wearnes ini.

Saya baca baik-baik dan entah saya ngerasa ada jurusan yang cukup baik disana buat saya: “Secretary and Public Relation based on computer skill.” Tagline sekolahnya aja International School of Computer and Business. Judulnya bahasa Inggris, jadi itu yang bikin saya mendapatkan secercah harapan. Pada waktu itu juga, saya telepon mama dan beritahu apa saya bisa masuk dan kuliah disana. Mama langsung terima, dan singkat cerita saya akhirnya daftar.

Dari awal saya daftar sampai sepanjang saya kuliah dan selesai, orang-orang di sekolah itu nggak berhenti terheran-heran karena saya bisa terdampar disitu. Karena yah, bukan karena saya lulusan SMA Negeri 3 Semarang aja, tapi juga karena predikat saya disana adalah yang nomor 1 jadinya. Sempat saya dijuluki “sakti” saking tidak ada yang mengalahkan terutama dalam hal komputer.

Hohoho. Tapi nggak segampang itu, bro sis. Saya itu sedari dulu untuk masalah penampilan, pilih yang simple, tanpa makeup, jarang pake banget untuk pake rok atau dress (mungkin cuman seragam aja), pokoknya milih tampilan cowok lah.

Ini kayanya SMA kelas 11 deh.

Jadi nih, Tuhan emang sengaja membiarkan kapal saya karam supaya bisa singgah ke “pulau antah berantah” bagi saya ini untuk mengubah sisi wanita saya. Uhuhuhu πŸ˜„

Disitu saya dipaksa setiap hari pakai rok, sepatu hak tinggi dan makeup. Amplop. Mana ada kompetisi makeup lagi. Jelas sih saya nggak menang, orang itu pertama kali saya mengoleskan elemen-elemen kimia di wajah saya dengan tangan sendiri. Ahahaha. Itu udah untung banget saya nggak salah pake celak mata untuk perona pipi atau gincu untuk eyeliner. Abisnya pada mirip sih. πŸ˜…

Oleh karena itu, saya sekarang bisa menjadi seperti ini karena Tuhan punya rencana. Seperti pepatah terkenal berkata, “Everything happens for a reason.

Pake foto lama aja yah. Biar simple. πŸ˜†

Selain itu, saya juga Tuhan ijinkan untuk menyebut nama Tuhan Yesus di atas podium, di depan ratusan mahasiswa, orang tua mereka dan seluruh dosen + staff, ketika saya menjadi mahasiswa terbaik disana. Tahu nggak sih? Saya keluar dari sekolah itu bahkan bawa duit karena dapat beasiswa prestasi. Istilahnya, cuman dolan dibayar. Dan yang paling aneh, ini sekolah tutup setelah saya lulus. Aduh duh. Lucu sih, kaya sekolah itu sengaja dibiarkan ada untuk saya.

Tuhan mah emang keren gitu. He brought me to it, He brought me through it. Dengan kata lain, Dia yang suruh, Dia yang tanggung.

So, peeps, kalau saat ini kamu lagi ada di situasi yang rasanya nggak masuk akal dan bikin kamu sebel, tarik nafas dalam-dalam dan hembuskan perlahan (ati-ati jangan keluar lewat bawah πŸ˜›). Lalu, bilang sama Tuhan, “MauMu apa, Tuhan, dalam hidupku?” Niscaya kamu akan mendengar Dia berkata padamu, “Hai, nak. Diem aja. Ikut caraKu.”

Ahahhaha. Itu kalo Tuhan-nya adalah saya. πŸ˜…

Pokoknya, enjoy setiap proses. Emang bener, omdo gampang. Istilah kerennya, “Easier said than done.” Tapi, worth it banget kok.

Kenali Tuhan kita yang caranya unik tapi asli, menakjubkan dan tak terpikirkan. Percaya aja noh, Dia sanggup menjadikan hidupmu sebuah kisah yang manis dan indah dibaca semua orang.

And we know that for those who love God all things work together for good, for those who are called according to his purpose.

~ Romans 8:28 ESV

Kamu… Akan Selalu Jadi Sahabatku.


Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.

~ Amsal 18:24

Saya bertemu dengan dia saat SMA. Kami berada satu kelas selama dua tahun berturut-turut. Kelas 11 dan 12. Selama SMA, memang dialah yang kerap kali banyak curhat, dan saya seperti biasa (sampai sekarang; untuk siapapun) menjadi pendengar. Dari A sampai Z tidak terluput untuk diceritakannya. Termasuk ketika dia terjatuh dari motor dan terluka, dia dipaksa papanya untuk memakan lobak yang pahit dan amis yang dia tidak suka. (Masih inget kan, Mim? 😝)

Namanya Yemima Rosa Putri Bungaa, papanya dari Maluku, mamanya asli Jawa. Kesan yang membuat saya tertawa pertama kali mengenalnya adalah ketika salah satu teman sekelas kami bertanya mengapa namanya BungaA bukan BungaB. Goodness! (Maaf, ya, Mim. Aku kalo inget masih ngakak. πŸ˜‚) Oh ya, suaranya juga khas. Mungkin kalau diibaratkan vokal, dia memiliki berbicara pada oktaf ke-5, seperti Mariah Carey atau Celine Dion.

Dulu saya termasuk seorang introvert yang memilih untuk melakukan segala sesuatunya sendiri. Saya tidak takut kalau harus tidak punya teman. Mungkin Yemima tidak sadar bahwa dia membawa pengaruh yang besar dalam hidup saya. Dialah yang membuat saya mau bersosialisasi. Karena apa? Ketika melihatnya berteman dengan semua teman sekelas kami, saya merasa iri.

Eits..

Bukan iri yang negatif, tetapi yang mendorong saya untuk menjadi makhluk sosial. Hahaha. Karena dia juga, saya bisa maju menjadi pimpinan dan orang penting dalam organisasi Kristen di sekolah. (Nggak percaya kan, Mim? Hahah. Nggak papa. Nggak ada hadiahnya juga. πŸ˜…πŸ˜†)

Perjalanan kami cukup panjang sih. Terlalu banyak kalau harus dituliskan. Nanti saya malah menulis novel. Hahahah. Intinya, dia itu sungguh-sungguh berdampak dalam kehidupan saya.

Oh, hampir lupa. Dia juga yang membuat saya tidak menyesal masuk di SMA kebanggaan kota Semarang itu. Karena jujur saya, selama saya bersekolah disana, saya merasa jadi robot dan kurang merasaan kebahagiaan masa SMA seperti yang orang sebut-sebut. Untung ada Yemima… Saya setidaknya punya kenangan yang membekas di hati. πŸ˜‚

Sudah sekitar 10 tahun saya mengenalnya, dan dia betul-betul mengalami transformasi yang luar biasa. Saya melihat sahabat saya ini sebagai sosok yang keibuan dan memiliki kasih yang begitu besar kepada anak-anak yang kehilangan kasih orang tua di sekitar lingkungan rumahnya. Dia juga menikah dengan seorang pria yang luar biasa dan sejalan dengan visi dalam hidupnya. Melihatnya ada rasa haru dan bahagia dalam hati saya.

Saya mengasihi dia, dan saya bersyukur pada Tuhan karena saya mengenal dia.

(** kaya berasa mau pisah ya, Mim. Cuman merasa perlu menulis ini. Nanti kalau terlanjur tua nulis kan nggak asik. 😌πŸ˜ͺπŸ˜‹πŸ˜†)

And this song is for you:

“Hey Friend”

(My) Life As A Teacher


Oi! Udah lama bener yak sejak saya terakhir nulis blog? Kkkkk. Siang ini saya lagi ngerasa kepingin banget nih untuk sedikit berbagi tentang pengalaman saya saat mengajar di SMA. Well, tentu saja dengan cara yang nggak boring, ’cause I’m attractive, baby. Hahahahaha. Pokoknya, enjoy aja nih. Barangkali bisa ngilangin stress kamu.

1. Iya. Ada kelas (-kelas) yang saya sebetulnya kepingin hindarin. Isinya anak-anak yang ramenya… Ajeb deh. Saking nggak nahan, saya pernah pukul penghapus ke whiteboard keras banget, bikin telinga berdarah. Ampun dah.

2. Gini nih ekspresi kalo mereka nggak bisa diminta diem. Asli, anak-anak SMA tapi kaya anak TK kalo saya bilang waktu itu saking keselnya. Akakakaka.

3. Sampai akhirnya saya bilang, “Oh oke. Ngomong aja terus, tapi kamu nggak akan istirahat.” Terus ketawa jahat. (Tapi ini nggak berlangsung lama. Soalnya kan saya juga butuh istirahat keles. Jadi saya punya cara lain. Guru kreatif getoh.)

4. Oh iya, di awal saya mengajar, sempat saya berpikir untuk diem aja sampe mereka diem. Dan somehow, cara ini berhasil. (Karena tatapan tajam saya mengandung racun mematikan yang dapat membuat mereka tak berdaya seketika. Miahahaha. 😈 *enggak ding)

5. Di antara mereka yang berisiknya melebihi tante-tante rempong tukang gosip, ada yang model gini nih. Mau dipindahin kemana aja tuh anak duduknya, jadinya percuma. Malahan anak-anak yang pendiem di sekitar dia jadi rame. Ommmoooo. Dia sungguh seorang pionir. Standing ovation for this kid.

6. Belum lagi anak yang nyalahin temennya kalo ditegur supaya diem. Amplop dah.

7. Tapi nih, hahaha, ada yang saya suka. Karena ketika saya capek, ada murid yang bantuin saya untuk bikin mereka yang berisik diem, dengan teriak kenceng sampe sekelas hening dan bening membuat pening.

8. Nih, nih. Selain stok mulutnya banyak, ada juga yang lari kejar-kejaran kaya anak SD. Mereka tuh pantatnya ambeien atau gimana sih?

9. Kadang stress itu juga bukan disebabkan mereka yang ribut aja, tapi mereka yang tanya instruksi yang saya kasi tepat setelah saya selesai bicara. Cicak! Mereka nih tadi ngeliatin saya dengan seksama ngapain? Mengagumi keindahan saya?

10. Atau juga, anak yang dateng ke meja saya. Saya seneng kan, “wah ada anak yang rajin nih. Pasti mo tanya tentang pelajaran.” Tapi pas udah di depan muka saya, dia bilang, “Miss, kapan kita selesai pelajaran supaya bisa jalan-jalan keluar kelas?” Saat negara api menyerang, nak. Dia pikir ini mall apah? Jalan-jalan kata dia. Ckckck.

11. Belum lagi kalo pas tes nih, anak-anak tanya cara mengerjakan soal. Padahal instruksi udah jelas layaknya kristal yang bersinar terang di kertas ujian mereka. Wah, mereka ini kebiasaan nggak pernah baca deh.

12. Karena saya mengajar bahasa Inggris, pertanyaan ini juga diberikan ke saya. “Miss Yo, harus nulis pake kalimat lengkap nggak?” Padahal dari awal saya mengajar, saya selalu bilang, “Nak, nak, jangan samakan kelas saya dengan kelas Inggris kamu yang sebelumnya. Peraturan saya hanya satu dalam menjawab. Jawablah dengan benar.” Ugh. Apa sih susahnya mengingat satu hal ini?

13. Ada juga nih anak yang antara males atau hang, jadi ketika dikasi penjelasan tentang sistem kelas dan penilaian dengan gamblang dan bahasa yang sangat dimengerti oleh manusia, tiba-tiba tanya, “Kalo ngerjain PR bisa nambah nilai akhir ya, Miss?” Astajim. Ini anak. Tobat, nak. Tapi habis itu anak itu rajin sih ngerjain PR. Cuman saya nggak bisa dibodohin lah (maklum, saya merangkap pekerjaan sebagai FBI), dia copy kerjaan temennya dari kelas lainnya yang bukan sejurusan, tapi saya lacak 😎 dan dia menjadi tersangka plagiarisme maka saya kasi nilai 0!! Mulai saat itu dia nggak plagiat lagi. Cuman kerjaannya nggak bisa dideskripsikan dengan dengan kata-kata. Tahu lah ya maksudnya?

14. Waktu pengumpulan tugas juga nih. Bikin kepala puyeng. Mana ada tuh yang pura-pura lupa kalo udah harus ngumpulin. Beribu alasan tingkat dewa lagi. Ish. Saya balas aja ketika waktunya bagiin nilai, dan dia nggak dapet punya dia. Dia tanya ke saya, kok nggak ada punya dia. Saya jawab aja, “Wah, saya lupa kamu murid saya.” Hahahaha. Tapi itu cuman becanda. Saya sebetulnya udah koreksi. Iya lah. Saya kan guru yang begitu sabar dan baik hati kepada semua murid saya. Unch unch.

15. Lucunya, pas tiba akhir semester, anak-anak kan pasti minta tuh ke saya kisi-kisi ujian, nah disinilah saya memberikan wejangan yang begitu bermakna bagi mereka, dan saya yakin mereka sangat terkenang-kenang. “Mau naik kelas? Belajar woy.”

16. Ah, ada juga suatu kali satu grup murid yang mau skip kelas. Ceritanya itu di akhir-akhir semester kan. Biasanya kelas tinggal review. Nah karena nggak ada materi, mereka mau noh main ke kelas sebelas. Diem-diem mau keluar kelas. Kirain saya nggak tahu karena ada banyak anak kelilingin saya waktu jelasin pelajaran ke mereka? Saya langsung aja panggil nama mereka satu per satu. Mereka kaget, karena saya nggak lihat tapi kok tahu siapa aja yang berniat keluar. Nggak tahu aja mereka ini siapa gurunya? Mehehehe. 😏 Langsung mereka balik duduk lagi dan ngobrol deh.

17. Dua tahun saya mengajar, saya menemukan bahwa dalam setiap tugas bergrup ada anggota model begini: (1) Anak yang kerjain semua tugasnya, (2) Anak yang nggak ngerti mau ngerjain apa, (3) Anak yang katanya mau bantu tapi ternyata cuman bantu doa, dan (4) Anak yang menghilang ketika diajak kerja. Astaganaga. Makhluk seperti mereka ada yah?

18. Sebagai seorang guru, saya diharuskan untuk menulis rancangan pembelajaran di awal semester mengenai apa saja dan strategi yang bagaimana saya akan lakukan di kelas-kelas saya sepanjang tahun ajaran. Nah, karena kasus-kasus tak terduga di kelas, nggak jarang saya harus kreatif untuk bikin anak-anak untuk pahami apa yang saya ajarkan. Terutama untuk bikin mereka diem dulu. Maka pertemuan beberapa kelas sering keluar dari rancangan pembelajaran. Ehehehehe. Peace.

19. Yang paling ngenes tuh sebagai guru tuh yah, waktu koreksi kerjaan anak-anak. Bayangkan ada 5-6 kelas, isinya 30-an anak. Ommooo. Saya pernah ngajar 152 anak dan harus koreksi esai mereka dalam waktu seminggu doang! Alhasil sejak saat itu saya pasang strategi untuk nggak nyusahin diri sendiri. Salah satunya minta mereka tulis karya di blog dan saya tinggal menilai di sana. Aha! Technology helps! Terima kasih, wahai. siapapun yang sudah mengembangkan teknologi!

20. Bisa dibilang hasil saya mengajar SMA membuat saya menjadi gila. Ahahaha. Nope. Bukan gila dalam arti negatif yah. Tapi gila karena saking ‘menyenangkannya’ saya terus belajar setiap hari untuk menjadi sosok guru yang berhasil mencerdaskan siswa dengan cara yang kreatif dan nggak kolot. Mengikuti jaman gitu lah. Bahkan ada yang sampai saling mengenal secara pribadi, dan bisa bicara heart to heart.

Makasih loh yah, semua mantan anak-anak murid saya. Saya tahu kalian tidak menyesal pernah mengenal saya. Kalau sampai menyesal itu salah sendiri, aku deketin kamu menjauh. #apaanseh? πŸ˜‚πŸ˜‚

Intinya, my life as a teacher di SMA tentu kasi dampak yang besar banget buat saya. Terlebih karena ketika kalian lulus, saya dapetin adek-adek baru yang beranekaragam bentuk dan sifat! Ahahahaha. 😝😜

I never regret that God once called me there.

I never regret that God stopped me from giving up in the first year.

I never regret that God introduced me to those who are ALSO precious in His sight.

Jasa Penerjemahan Indonesia-Inggris MURAH BANGET


Joan Marshall.jpg
Bulan-bulan begini biasanya mahasiswa tingkat akhir pada butuh bantuan untuk translate abstrak kan? Cuman Rp 20.000,- aja, dan kamu akan dapatkan terjemahan yang siap untuk dipublikasikan di skripsi/tesis kamu.
Β 
Mau terjemahkan seluruh skripsi/tesis? Atau dokumen lain? Mulai dari Rp 30.000,- aja per halaman. )*
Β 
JUST TEXT ME VIA FACEBOOK. (Lihat bagian kanan halaman ini >>)
.
.
.
.
Β 
)*disesuaikan konten dan format

Seberapa Banyak?


“Tuhan, aku berdoa supaya lulus dengan nilai tinggi.”

“Tuhan, aku berdoa punya pekerjaan yang terbaik.”

“Tuhan, aku berdoa dapat pasangan hidup yang sepadan dengan aku.”

“Tuhan, aku berdoa keluargaku tetap harmonis.”

~

Semua itu adalah doa yang sering kita ucapkan kepada Tuhan. Saya pun menjadi salah satu orang yang melakukannya. Firman Tuhan sendiri berkata bahwa “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Matius 7:7). Jadi tidak salah kan kita berdoa seperti itu?

Tidak salah. Tapi coba perhatikan ini.

β€’β€’β€’

“Suatu kali, mama saya memasak sup jagung yang lezat sekali. Saya baru bergabung ke meja makan setelah keluar dari kamar saya. Melihat yang lainnya sudah siap makan dengan mangkok terisi sup, saya pun membuka lemari untuk mengambil mangkok saya sendiri. Sayangnya, mangkoknya habis dan saya harus mencuci lebih dulu untuk mendapatkan mangkok yang besar. Namun saya terlalu malas untuk mencuci sehingga saya memutuskan untuk menggunakan mangkok satu-satunya yang tersisa, yaitu yang kecil. Di dalam panci yang besar itu masih tersedia banyak sekali sup yang mama memang sediakan untuk dihabiskan kami sekeluarga, namun karena mangkok saya kecil, tentu saja saya tidak bisa sekaligus menuangkan banyak sup sesuai porsi saya. Alhasil karena merasa kurang, saya harus mengambil sup beberapa kali setiap kali sup di mangkok kecil itu habis.”

β€’β€’β€’

Kita berharap dan berdoa pada Tuhan untuk sesuatu hal terjadi. Tetapi seringkali kita hanya memberikan sedikit ruang untuk Tuhan bekerja. Alasannya bisa jadi karena sibuk, kecapekan, atau yang paling parah, lupa.

Mintanya besar, tapi yang disediakan sedikit. It won’t work. Tuhan kita itu Tuhan yang teratur. Dia juga bukan Tuhan pemaksa.

Sup jagungnya banyak loh, tapi yah menikmatinya sedikit-sedikit kalau mangkoknya kecil. BerkatNya banyak, tapi menikmatinya sedikit-sedikit kalau kita sendiri tidak memberikan ijin sebebas-bebasnya untuk Dia berkarya.

Apakah selama ini sudah sering berdoa untuk berkat, kesembuhan, pemulihan, dan lain sebagainya, tapi rasanya seperti segala sesuatu berjalan lambat? Ini dia kesempatan untuk cek diri sendiri.

Dalam waktu 24 jam sehari, lebih banyak memberikan waktu untuk hal-hal pribadi atau mencari Tuhan? Lebih banyak kuatir dan bimbang akan masa depan atau percaya penuh pada sang Pemilik alam semesta dan Sumber segala yang baik?

Kita bisa belajar dari perempuan Sunem yang sering mendapat kunjungan dari nabi Elisa. Karena ia percaya nabi Elisa itu datang dari Tuhan, maka ia menyediakan ruangan khusus baginya.

Berkatalah perempuan itu kepada suaminya; β€œSesungguhnya aku sudah tahu bahwa orang yang selalu datang kepada kita itu adalah abdi Allah yang kudus. Baiklah kita membuat sebuah kamar atas yang kecil yang berdinding batu, dan baiklah kita menaruh di sana baginya sebuah tempat tidur, sebuah meja, sebuah kursi dan sebuah kandil, maka apabila ia datang kepada kita, ia boleh masuk ke sana.

Apa yang terjadi pada perempuan Sunem itu dalam hidupnya? Dia awalnya mandul bertahun-tahun, tapi dia menyambut Tuhan yang ada dalam nabi Elisa, sehingga ia mendapat anak. Anaknya suatu kali mati, tapi karena ia percaya pada Tuhan, anaknya hidup kembali.

Tuhan kita itu hebat dan ajaib. Mari berikan ruangan selebar-lebarnya untuk Tuhan berkarya dalam hidup kita, maka kita akan merasakan karyaNya yang betul-betul besar. Ayo sediakan mangkok yang besar, tidak perlu makan sup sedikit-sedikit lagi.

Jadilah puas, rasakan sensasi yang sungguh menjadi anak Raja di atas segala raja!

Sakit Hati


P.S. Saya tidak sedang sakit hati, hanya baru menonton film Korea jadi terinspirasi. 😍

P.S. (Lagi) Saya bukan penggemar film Korea, hanya belajar bahasanya. Wkwk. πŸ˜‚

~~~~~~

Apa yang biasa orang lakukan pertama kali saat merasakan sakit hati? Berdasarkan pengamatan saya selama ini, ada beberapa tipe orang sakit hati.

1. Menangis dalam diam, lalu mengurung diri. Terjadi perubahan sikap. Biasanya buruk. Depresi kali.

2. Tertawa terbahak-bahak, padahal menyimpan luka. Terlihat seolah tidak terjadi apa-apa. Sakitnya hilang kapan tidak tahu, yang penting orang lain tidak tahu.

3. Saking sakitnya, kabarin seluruh dunia lewat sosmed. Awalnya memang sedih, tapi habis itu bisa lupain masalahnya. Kalau ngerasa sakit lagi, bikin status lagi. Perhatian orang lain yang membuat tenang.

Kamu tipe yang mana?

Ehehe. Enggak ding. Ini bukan macam kuiz. Hanya membagikan pengamatan dan pendapat saja.

Kenapa saya tulis 3 tipe itu? Ya memang sih itu belum tentu akurat. Saya kan cuma tulis berdasarkan pengamatan saya saja. Tetapi mau percaya atau tidak, 3 tipe itu yang paling mendominasi manusia sejak dulu sampai sekarang.

Balik lagi. Kenapa saya tulis 3 tipe itu? Karena saya mau menekankan bagaimana reaksi seseorang dalam menghadapi masalah adalah yang menentukan apa yang terjadi selanjutnya.

Tentu benar bahwa tidak seorangpun yang tidak pernah melewati yang namanya sakit hati. (Tapi juga benar tidak semua orang pernah sakit liver. Mehehehe. Beda lagi. πŸ˜‚) Yang membedakan adalah reaksi yang diberikan.

Boleh lah ketika ada masalah jadi merasa sedih atau menolak merasa sedih dengan cara apapun. Tidak ada yang salah dari dua hal itu. Hanya saja semua orang perlu sadar apa yang bisa terjadi setelah reaksi yang diberikan itu.

Sederhananya, dari pendapat saya sendiri nih ya, sama-sama mengeluarkan energi, kenapa tidak pilih yang positif saja? Eits. Bukan yang asal positif ya, tapi yang benar. Ini nih satu lagi yang belum saya keluarkan dari tipe-tipe di atas.

4. Memang merasa sakit, bisa jadi diam, nangis atau ketawa, tapi habis itu doa, besoknya (besok= lusa, seminggu, sebulan, etc. ) bisa senyum lagi. Ada kekuatan tak terlihat yang perlahan menyembuhkan luka.

Sakit hati? Tidak perlu lari kemana-mana. Satu sumber saja kok. Pergi ke yang ciptakan hati. Jangan ke tukang reparasi hati.

Ibarat gigi lubang nih, pergi ke dokter gigi untuk ditambal. Apakah giginya jadi baru? Tidak. Cuman ditutupin saja lubangnya, padahal masih ada.

Kalau pergi ke sumbernya, dikasi noh hati yang baru, sukacita yang baru, damai sejahtera yang baru. Pokoknya semua yang tidak bisa diberikan dunia ini, ada di penciptanya.

Ayo, semua yang sakit hati, come to Papa. Mau sembuh total kan? Jangan tunggu-tunggu lagi. Bergerak. Cepat. Sekarang. πŸ˜‰

~~~~

P.S. (Lagi lagi) Saya juga pernah sakit hati, dan tipe 4 ini saya lakukan. Trust me, it works!

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”
Matius 11:28 TB