‘Nggelindhing Wae’ (Just Roll)


Ada satu kejadian yang baru saja saya alami kemarin. Hal ini membuat saya betul-betul diingatkan kembali sama Tuhan kalau jalan sama Tuhan itu tidak perlu banyak keraguan.

Jadi seminggu sebelumnya, koordinator gembala di gereja dimana saya melayani meminta bantuan saya untuk menjadi penerjemah. Posisi saya pada waktu itu bekerja sampai jam 5 sore padahal acara dimulai pukul  sore. Dari situ saja sebetulnya saya sudah ragu. Saya memberitahu beliau agar menjadikan saya cadangan saja karena takut saya tidak bisa. Namun beliau terlalu yakin bahwa saya bisa. *disitu saya merasa sedih* 😂

Lalu muncul masalah lagi yang menjadikan saya ragu. Begini ya. Tidak selalu orang yang fasih berbahasa Inggris bisa menerjemahkan juga. Mungkin anda yang tidak tahu menerjemahkan itu bagaimana, saya sekarang beritahu. Pada waktu yang sama, otak, telinga, mulut, tangan dan kaki bekerja. Belum lagi mengejar waktu. Tidak mungkin kan setelah orang bulenya berbicara, setelah lima menit saya baru menerjemahkan?

Nah jam terbang saya menerjemahkan itu masih bisa dihitung dengan jari. Jari-jari tangan dan kaki jumlah 20 kan? Ada yang lebih? Wkwk. Saya masih di bawah itu dan frekuensinya jarang-jarang. Sejak kuliah sampai sekarang kira-kira 6 tahun dan saya masih mendapatkan >20 kali menerjemahkan. Itu yang membuat saya khawatir saya akan tersendat-sendat saat menerjemahkan.
Masalah ketiga lalu muncul. Jadi ada 2 orang pembicaranya, suami dan istri. Masing-masing meminta 1 penerjemah sesuai gender. Nah, penerjemah yang laki-laki ini jam terbangnya sudah ratusan dan denger-denger pernah tinggal di luar negeri. Yah, itu yang membuat saya sedikit (baca: sangat) minder. Apalagi lokasi kami tidak dipisah, tetapi satu mimbar! Ciutlah hati saya.

Saya masih coba me-lobby kepada koordinator gembala itu dan salah satu staf full-timer gereja agar mencari penerjemah lainnya lebih dulu. Namun mereka bilang bahwa penerjemah itu sedang pergi hari itu.

Begitulah cara Tuhan ‘menyudutkan’ saya sehingga tidak ada jalan untuk keluar lagi. Saya juga berbicara dengan keluarga saya apa yang harus saya lakukan, tapi mereka tambah ‘menyudutkan’ saya dengan ekspresi mereka yang begitu senang dan mengatakan saya harus mengambil kesempatan ini. Mana saya merasa Roh Kudus juga memberitahu: ‘Mau kehilangan kesempatan dan nggak dapet lagi?’

Jadilah saya BERSERAH sepenuhnya sama Tuhan.

Roh Kudus tuntun saya untuk mendengarkan sekaligus berlatih menerjmahkan dengan audio yang dipublikasikan di website resmi pelayanan kedua pembicara ini. Ketika saya berlatih, saya merasa ingin semuanya agar berjalan sangat mudah. Mungkin jika ditilik secara manusia, karena saya terbiasa dengan dialek Amerika maka saya menjad lebih mudah paham. Namun pada awal saya berlatih, tidak juga seperti itu. Seringkali saya lupa apa yang pembicara ucapkan sehingga harus me-rewind audio dan mendengarkan kembali. Saya berlatih selama 2 hari berturut-turut sebelum hari H.

Puji Tuhan, ketika saya meminta ijin atasan di pekerjaan saya untuk pulang lebih awal demi melakukan persiapan, saya diijinkan. Maka hari itu saya lebih merasa lega. Setelah bersiap, saya ikut menjemput pembicara dan mengobrol sebentar, alih-alih mau meminta agar berbicara per frasa bukan kalimat yang panjang. Lucunya, pembicara itu berkata pada saya bahwa ia terbiasa bekerjasama dengan penerjemah maka ia akan berbicara dengan perlahan dan singkat.

Ketika waktunya untuk naik ke panggung, giliran pertama adalah pembicara pria, sehingga saya menunggu dengan pembicara wanita. Saya berdoa terus sepanjang waktu  (haha, ketahuan kan saya sudah sering di panggung tapi bisa tetap grogi?). Dan… tada!!! Saatnya tiba, pembicara wanita berbicara dan giliran saya menerjemahkan.

Awalnya saya cemas, tapi pada saat di depab mimbar saya merasakan ketenangan yang luar biasa. Deg-degan pun tidak. Aneh bin ajaib kan? Saya pun menerjemahkan dengan lancar.

Saya pun diajarkan Tuhan kembali tentang kutipan singkat yang dulu sempat sangat marak setelah dipopulerkan oleh almarhum Pdt. Yusak Tjipto “Nggelindhing Wae”. Intinya percaya saja karena Tuhan yang jamin jika Dia sudah memerintahkan. Saya rasa lain kali saya akan lebih yakin dan tidak perlu merasa ragu jika harus mendapatkan kesempatan kembali. (Ya, dilihat juga pembicaranya memiliki aksen apa sih, karena saya pernah menerjemahkan dengan aksen India dan Afrika yang membuat saya pusing 7 keliling haha.)

“Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.  Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”

~ Amsal 3 : 5-‬6

••••••••••••••••••••

P: Pembicara, S: Saya

P: The second gift that we as wives have to give to our husband is a healthy intimate sexual relationship.

S: Hadiah kedua yang kita sebagai istri perlu berikan kepada suami kita adalah hubungan seksual yang intim dan sehat.

—–

P: I want to ask you something. Please stand up for whoever has 1 child in the family, both husband and wife.

S: Saya ingin bertanya kepada Anda, jadi tolong berdiri bagi Anda suami dan istri yang memiliki 1 orang anak.

P: 2 children?

S: 2 anak?

P: 3, 4, 5 children?

S: 3, 4, 5 anak?

(Jeda beberapa lama, bercanda dan lain sebagainya.)

P: Does anyone here have six?

(Disinilah saya salah mendengar, saya pikir dia melanjutkan ke pembahasan sebelumnya mengenai hubungan seksual, saya agak ragu tapi otomatis menerjemahkan)

S: Apakah yang hadir disini pernah melakukan hubungan seksual?

(Tapi satu detik Roh Kudus ingatkan bahwa saya salah dengar, maka saya langsung perbaiki)

S: Oh, maaf. Maksud saya, apakah ada yang memiliki 6 anak?

(Tapi semua orang terlanjur tertawa. Dan saya ingin menertawakan diri saya sendiri juga tapi posisi sedang menjadi penerjemah jadinya saya bisa tahan. 😂😂😂😂)

••••••••••••••••••••
Tips untuk anda yang suatu kali jadi penerjemah:

  1. Pasang telinga tajam
  2. Jika terjadi kesalahan fatal jangan malu jadi down. Penerjemah juga manusia, jadi bisa salah.
  3. Serahkan semua ke Tuhan.

Akhir kata,

NGGELINDHING WAE!

With Denise Glenn (Kardo Ministry)

From left: Dad, my sister, Denise Glenn, David Glenn, Me, Mom, my sister’s bf.

I Am Not Alone.


Beban hidup rasanya berat ya? Seperti membawa bola dunia itu dengan dua tangan kita. Itu yang kita pikirkan sedang terjadi karena kita terbutakan dengan justru apa yang kita lihat.

Kalau saja kita berani untuk menutup mata sejenak dan masuk dalam ketenangan, pada saat itulah kita bisa menyadari sebuah fakta yang sesungguhnya. Kita tidak pernah sendirian.

Tangan itu memang tidak terlihat. Tetapi tangan itu selalu menggandeng kita. Sekali saja pun tidak pernah melepaskan. Begitu kuatnya tangan itu sehingga sampai saat ini kita tidak jatuh tergeletak dan hilang.

Sekali janji itu terucap, tidak pernah akan diingkari. Percayalah. Dia sangat bisa diandalkan.

Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”

~ Ibr 13:5

Everything Happens For A Reason


Sesungguhnya kalimat itu merupakan suatu kebenaran. Kenapa saya berani menyatakan bahwa itu adalah sebuah kebenaran? Karena firman Tuhan juga mengatakannya.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8 : 28)

Di balik segala sesuatu yang kita alami, Tuhan sedang bekerja. Mungkin kita tidak paham, mungkin saya sendiri tidak paham, tetapi Tuhan tidak pernah berhenti bekerja. Itu adalah suatu kepastian. Kalau kita meminta sesuatu yang baik dari Tuhan, kita tidak mendapatkan yang baik, tapi yang terbaik. Karena itu, ayo bersama saya, kita belajar untuk mengenal konsep ini. Sabar menanti sambil terus berdoa dan bekerja sesuai yang Tuhan mau.

Selamat malam! God bless!

“God Bless You, Miss.”


Ucapan itu baru saja saya dengar beberapa menit sebelum saya mulai menulis blog ini. Ucapan ini keluar dari mulut beberapa siswi kepada salah seorang gurunya saat akan pulang. Kenapa secepat itu saya menulisnya?

  1. Karena saya sedang ada waktu luang. (Haha, tapi bukan ini alasan utamanya)
  2. Karena ucapan ini jarang diucapkan. Jarang diucapkan.

Di lingkungan yang notabene penuh dengan anak Tuhan, tetapi jarang sekali mendengar ucapan ‘God bless you‘ menimbulkan sebuah keadaan yang rasanya miris sekali. Entah kenapa salam ini seolah-olah tabu diucapkan.

Sudah saatnya terjadi kebangkitan anak-anak muda yang takut akan Tuhan. Hanya saja, ada sebuah pertanyaan yang muncul kemudian: siapakah yang mau berdiri untuk memulainya?

Tidak ada waktu lagi untuk berkata, “Ah, nggak ada yang berdiri, masa aku berdiri?” atau “bukan urusanku, yang penting sikapku baik” atau malah mungkin “huh? ada apa sih?

Just a friendly reminder, ayo jadi seperti Yesaya yang berkata “Ini aku Tuhan, utuslah aku.” Mau melakukannya? Ayo lakukan bersama dengan saya.

Nggak Kuat Berdiri? Berlutut Dong.


Hidup manusia itu ibarat perjalanan, yang mana jalannya kadang mulus atau berbatu-batu. Normal sih kalau semisal orang merasa capek jalanin kehidupan. Hahaha. Dalam hal ini, nggak perlu ada perdebatan. Nggak perlu jadi hypocrite juga. Karena kenyataannya memang begitu.

Cuman, yang nggak semua orang tahu adalah ketika masanya tiba di jalan yang berbatu-batu, kekuatan yang dipakai itu harusnya bukan kekuatan sendiri. Kalau pakai kekuatan sendiri sih, capek sendiri. Mungkin parahnya akan berdampak ke keputusasaan dan menyerah pada akhirnya.

“When you can no longer stand, kneel.”

Saya suka sekali dengan quote singkat ini. Masuk akal kan, kalau kita nggak kuat lagi, berserah aja. Berlutut sama Tuhan. Jangan maksain diri jalan terus, toh udah nggak kuat jalan lagi.

Kebanyakan orang Kristen lupa nih. Coba deh instropeksi diri. Tenang. Saya juga kok instropeksi diri. Karena jujur firman Tuhan berkata ‘roh itu penurut tetapi daging lemah’. Makanya nih kita perlu yang namanya kekuatan dari luar. Kekuatan ilahi. Kekuatan yang datangnya dari sorga. Kekuatan dari Roh Kudus.

Ayo, kita sama-sama ingetin diri sendiri lagi, kalau memang rasanya udah nggak kuat, minta kekuatan dan kemampuan dari Roh Kudus. Pasti deh, kita bisa jalan lagi dan bahkan selesai sampai finish line dengan sukacita.

Selamat hari Minggu, Tuhan Yesus memberkati! 😉

Be Perfect? For Real, God?


“​You therefore must be perfect, as your heavenly Father is perfect.”

~ Matthew 5:48 ESV

Perfect? Becoming perfect? Do you think that’s possible?

We have heard that nothing is perfect in this world. We also have heard that no human can be perfect. However, God tells us to be perfect? Why?

See, to my opinion, there’s something to this verse. God has a purpose why He tells us so, because our God is a God of purpose. It’s never like, He just says it and nothing He does for us to make us able.

A couple days ago, my coworker delivered the devotion. She gave a wonderful analogy.

Once, in a class, a Mathematics teacher suddenly came in and told the students to get score above 80. One of the students, inside her heart said, “How can I get 80 if getting 50 is already impossible for me?” She didn’t know what to do until the teacher said, “I’m available for everyone who wants to study Mathematics.”

This student then decided to come to the teacher and asked for extra time study. She always came everyday after school and was willing to go home late only to get good score.

Time went by. Her hard work paid off. What was impossible for her then turned into possibility. She didn’t only get 80. She got the perfect score.

It’s just the same way with all of us. God willingly gives His time for His children to learn from Him and with Him how to be perfect. He never tells us something to do without giving us a way to do it.

Now that you have read this, I am praying that you understand and start coming to the Great Teacher to learn deeper. Last thing I want to say, you and I are going to be the way God wants us to be: Perfect.