Menurut Kamu?


Watuk

Kata orang Jawa:

WATUK iso diobati, tapi yen WATAK nganti sak modare ora bakalan mari” (Batuk bisa diobati, tetapi kalau watak sampai mati pun tidak bisa sembuh).

Uh-oh. Maaf. Saya tidak sependapat. Karena hidup adalah pilihan.

Sebagai contoh kecil:

Saya dulu akan menolak mentah-mentah untuk diberi masukan. ‘Disenggol‘ sedikit bisa tersinggung, lalu diam dan menyimpannya sampai sakit sendiri. Sampai suatu kali pernah saya terlalu menutup diri karena tidak mau dikecewakan lagi, sehingga mama saya pernah berkata: “Kamu ini manusia atau bukan? Kok nggak bisa bersosialisasi?”

Dalam satu masa, saya menyadari bahwa itu SALAH. Tuhan menciptakan manusia untuk saling mengasihi dan membangun. Gesekan PASTI ada. Tetapi bagaimana cara merespon itulah yang akan membedakan seorang dengan yang lain.

Maka, saya belajar untuk lebih terbuka dan mau diproses. Berteman dengan banyak orang, menghargai segala masukan, sehingga menjadi berkat buat mereka. Bukankah itu memang kehendak Tuhan untuk kita perbuat?

Teman-teman, hari-hari ini KASIH MENJADI DINGIN. Tetapi mari jadi satu bagian yang tetap PANAS dan BERAPI-API supaya pada waktu Tuhan datang kembali untuk menjemput kita, kita didapati tetap setia dan berkenan di hatiNya.

God bless y’all!


“Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”
~ Roma 12:2

Jasa Penulisan Lirik dan Lagu Mulai dari Rp 100.000!


songwriting

Selamat pagi semuanya!

Entah kenapa terbersit sebuah ide di benak saya pagi-pagi di kamar mandi (oops, ketahuan dimana kan) untuk menjual jasa penulisan lirik dan lagu. Sejauh pengalaman saya, anak-anak sekolah biasanya dapat tugas untuk ini nih. Tapi mungkin juga kamu seorang cowok yang mau ngelamar cewek pakai sebuah lagu, atau kamu punya sahabat dan mau ngasi hadiah spesial. Kalau kamu ngerasa itu kamu, coba cek disini.

P.S. Sebetulnya, jujur aja penulisan lirik dan lagu itu bisa sangat mahal. Google aja deh coba kalau nggak percaya. Tapi disini saya mau salurkan talenta saya, tapi maaf tidak bisa cuma-cuma. Karena yang namanya talenta harus dihargai kan? Hoho.

Tarif HANYA:

  1. Rp 100.000 : Penulisan lirik
  2. Rp 100.000 : Penulisan lagu

* Untuk penggarapan lagu sampai lagu jadi, ada tarifnya sendiri.

Mungkin ada yang mau tahu karya saya seperti apa, silakan klik di bawah ini.

Class Project Songs

Love Is Marvelous – Yohana Ekky (Acoustic)

Tertarik? Comment di bawah ini email kamu dan saya akan email balik. ^^

Stay blessed!

Cara Mendapatkan Surat Keterangan Sehat, Bebas Narkoba, Bebas TBC di Semarang


Hai semua!

Karena lagi marak banget untuk daftar beasiswa LPDP, ini saya share pengalaman saya waktu dapetin SKS, SKBN dan SKBTBC. Saya sempat bingung awalnya mau kemana, ada beberapa pilihan tapi saya menjatuhkan pilihan ke :

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH TUGU SEMARANG.

Pokoknya disini pelayanannya oke dan cepat, serta biayanya juga nggak terlalu menguras dompet. Plus, cuman memakan satu hari. Ya, satu hari saja! Saya akan jelaskan langkah-langkah sederhananya disini.

  1. Langsung menuju ke Paviliun Nusa Indah, ke lantai 1 dan mengantri. (Saya datang di bawah jam 8  jadi masih sepi dan saya dilayani pertama kali)
  2. Jelaskan bahwa mau mendapatkan ketiga surat tersebut, lalu diminta untuk menunjukkan KTP dan menunggu.
  3. Setelah mendapatkan bill, nanti akan diminta untuk membayar biaya surat keterangan sehatnya lebih dulu.
  4. Lalu akan diarahkan untuk ke bagian perawat yang akan ukur berat dan tinggi badan serta tensi.
  5. Kalau beruntung, ada perawat yang diutus untuk mendampingi tes rontgen (TBC) dan urin (narkoba). Kalau nggak ya nanti akan diarahkan untuk ke tempat-tempat tersebut. (Tapi percayalah, mereka akan kasi pelayanan yang baik dan cepat kok).
  6. Sesuai dengan arahan perawat pendamping saya waktu itu, saya diarahkan untuk tes rontgen dulu. Berkas saya yang diberi dari Paviliun Nusa Indah tadi diberikan kepada resepsionis dan menunggu sebentar untuk dipanggil.
  7. Waktu itu sembari menunggu tes rontgen, perawat pendamping saya itu baik sekali sehingga dia yang membawa berkas saya ke lap untuk tes urin. Jadi setelah saya selesai tes rontgen, saya tinggal menunggu nama saya dipanggil untuk mendapatkan berkas lainnya yang digunakan untuk tes urin saya.
  8. Waktu itu antriannya sudah cukup banyak sehingga sekitar dua puluh menit saya menunggu sampai nama saya dipanggil dan saya diminta memasukkan urin ke dalam sebuah botol kecil. (Ingat baik-baik untuk membaca instruksi yang tertempel di dinding toilet tentang tes urin ya, supaya nggak salah)
  9. Setelah itu saya kembali ke Paviliun Nusa Indah untuk menunggu sampai waktu yang ditentukan di bill yang saya dapatkan dari lab rontgen dan urin.
  10. Kurang dari satu jam saya disarankan oleh suster agar mengambil hasil rontgen dan tes urin, walaupun tidak sesuai dengan waktu yang ditetapkan. Dan benarlah kedua berkas itu sudah selesai saat saya kesana untuk mengambilnya. Untuk tes urin, saya dinyatakan bebas narkoba (ya iyalah wkwk)
  11. Saya memberikan hasil itu pada suster di Paviliun Nusa Indah, lalu diminta menunggu sampai dokter Paru-paru datang untuk membaca dan menuliskan hasil rontgen. Saya dinilai bebas TBC (ho yeah!).
  12. Yang paling terakhir, saya diminta untuk membayar total biaya yaitu sekitar Rp 315.000 saja! Murah kan? (Padahal waktu saya cari-cari di internet, semua menyatakan harga yang mahal huhu, puji Tuhan saya nemu RSUD Tugu.)
  13. Semua bill diberikan kepada suster dan saya diberikan copy bill-nya juga.
  14. Surat Keterangan Sehat, Surat Keterangan Bebas Narkoba dan Surat Keterangan Bebas TBC sudah jadi! Tapi jangan lupa untuk memastikan bahwa semuanya sudah di-cap dengan cap RSUD Tugu ya!
  15. Bawa pulang dan submit semua berkas itu sebagai syarat untuk mendapatkan beasiswa LPDP!

Sekian penjelasan singkat dari pengalaman saya mendapatkan ketiga surat ini. Good luck buat kamu yang daftar beasiswa LPDP!

Never give up on everything!

 

Surat Keterangan Sehat

Surat Keterangan Bebas Narkoba

Surat Keterangan Bebas TBC

‘Nggelindhing Wae’ (Just Roll)


Ada satu kejadian yang baru saja saya alami kemarin. Hal ini membuat saya betul-betul diingatkan kembali sama Tuhan kalau jalan sama Tuhan itu tidak perlu banyak keraguan.

Jadi seminggu sebelumnya, koordinator gembala di gereja dimana saya melayani meminta bantuan saya untuk menjadi penerjemah. Posisi saya pada waktu itu bekerja sampai jam 5 sore padahal acara dimulai pukul  sore. Dari situ saja sebetulnya saya sudah ragu. Saya memberitahu beliau agar menjadikan saya cadangan saja karena takut saya tidak bisa. Namun beliau terlalu yakin bahwa saya bisa. *disitu saya merasa sedih* 😂

Lalu muncul masalah lagi yang menjadikan saya ragu. Begini ya. Tidak selalu orang yang fasih berbahasa Inggris bisa menerjemahkan juga. Mungkin anda yang tidak tahu menerjemahkan itu bagaimana, saya sekarang beritahu. Pada waktu yang sama, otak, telinga, mulut, tangan dan kaki bekerja. Belum lagi mengejar waktu. Tidak mungkin kan setelah orang bulenya berbicara, setelah lima menit saya baru menerjemahkan?

Nah jam terbang saya menerjemahkan itu masih bisa dihitung dengan jari. Jari-jari tangan dan kaki jumlah 20 kan? Ada yang lebih? Wkwk. Saya masih di bawah itu dan frekuensinya jarang-jarang. Sejak kuliah sampai sekarang kira-kira 6 tahun dan saya masih mendapatkan >20 kali menerjemahkan. Itu yang membuat saya khawatir saya akan tersendat-sendat saat menerjemahkan.
Masalah ketiga lalu muncul. Jadi ada 2 orang pembicaranya, suami dan istri. Masing-masing meminta 1 penerjemah sesuai gender. Nah, penerjemah yang laki-laki ini jam terbangnya sudah ratusan dan denger-denger pernah tinggal di luar negeri. Yah, itu yang membuat saya sedikit (baca: sangat) minder. Apalagi lokasi kami tidak dipisah, tetapi satu mimbar! Ciutlah hati saya.

Saya masih coba me-lobby kepada koordinator gembala itu dan salah satu staf full-timer gereja agar mencari penerjemah lainnya lebih dulu. Namun mereka bilang bahwa penerjemah itu sedang pergi hari itu.

Begitulah cara Tuhan ‘menyudutkan’ saya sehingga tidak ada jalan untuk keluar lagi. Saya juga berbicara dengan keluarga saya apa yang harus saya lakukan, tapi mereka tambah ‘menyudutkan’ saya dengan ekspresi mereka yang begitu senang dan mengatakan saya harus mengambil kesempatan ini. Mana saya merasa Roh Kudus juga memberitahu: ‘Mau kehilangan kesempatan dan nggak dapet lagi?’

Jadilah saya BERSERAH sepenuhnya sama Tuhan.

Roh Kudus tuntun saya untuk mendengarkan sekaligus berlatih menerjmahkan dengan audio yang dipublikasikan di website resmi pelayanan kedua pembicara ini. Ketika saya berlatih, saya merasa ingin semuanya agar berjalan sangat mudah. Mungkin jika ditilik secara manusia, karena saya terbiasa dengan dialek Amerika maka saya menjad lebih mudah paham. Namun pada awal saya berlatih, tidak juga seperti itu. Seringkali saya lupa apa yang pembicara ucapkan sehingga harus me-rewind audio dan mendengarkan kembali. Saya berlatih selama 2 hari berturut-turut sebelum hari H.

Puji Tuhan, ketika saya meminta ijin atasan di pekerjaan saya untuk pulang lebih awal demi melakukan persiapan, saya diijinkan. Maka hari itu saya lebih merasa lega. Setelah bersiap, saya ikut menjemput pembicara dan mengobrol sebentar, alih-alih mau meminta agar berbicara per frasa bukan kalimat yang panjang. Lucunya, pembicara itu berkata pada saya bahwa ia terbiasa bekerjasama dengan penerjemah maka ia akan berbicara dengan perlahan dan singkat.

Ketika waktunya untuk naik ke panggung, giliran pertama adalah pembicara pria, sehingga saya menunggu dengan pembicara wanita. Saya berdoa terus sepanjang waktu  (haha, ketahuan kan saya sudah sering di panggung tapi bisa tetap grogi?). Dan… tada!!! Saatnya tiba, pembicara wanita berbicara dan giliran saya menerjemahkan.

Awalnya saya cemas, tapi pada saat di depab mimbar saya merasakan ketenangan yang luar biasa. Deg-degan pun tidak. Aneh bin ajaib kan? Saya pun menerjemahkan dengan lancar.

Saya pun diajarkan Tuhan kembali tentang kutipan singkat yang dulu sempat sangat marak setelah dipopulerkan oleh almarhum Pdt. Yusak Tjipto “Nggelindhing Wae”. Intinya percaya saja karena Tuhan yang jamin jika Dia sudah memerintahkan. Saya rasa lain kali saya akan lebih yakin dan tidak perlu merasa ragu jika harus mendapatkan kesempatan kembali. (Ya, dilihat juga pembicaranya memiliki aksen apa sih, karena saya pernah menerjemahkan dengan aksen India dan Afrika yang membuat saya pusing 7 keliling haha.)

“Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.  Akuilah Dia dalam segala lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”

~ Amsal 3 : 5-‬6

••••••••••••••••••••

P: Pembicara, S: Saya

P: The second gift that we as wives have to give to our husband is a healthy intimate sexual relationship.

S: Hadiah kedua yang kita sebagai istri perlu berikan kepada suami kita adalah hubungan seksual yang intim dan sehat.

—–

P: I want to ask you something. Please stand up for whoever has 1 child in the family, both husband and wife.

S: Saya ingin bertanya kepada Anda, jadi tolong berdiri bagi Anda suami dan istri yang memiliki 1 orang anak.

P: 2 children?

S: 2 anak?

P: 3, 4, 5 children?

S: 3, 4, 5 anak?

(Jeda beberapa lama, bercanda dan lain sebagainya.)

P: Does anyone here have six?

(Disinilah saya salah mendengar, saya pikir dia melanjutkan ke pembahasan sebelumnya mengenai hubungan seksual, saya agak ragu tapi otomatis menerjemahkan)

S: Apakah yang hadir disini pernah melakukan hubungan seksual?

(Tapi satu detik Roh Kudus ingatkan bahwa saya salah dengar, maka saya langsung perbaiki)

S: Oh, maaf. Maksud saya, apakah ada yang memiliki 6 anak?

(Tapi semua orang terlanjur tertawa. Dan saya ingin menertawakan diri saya sendiri juga tapi posisi sedang menjadi penerjemah jadinya saya bisa tahan. 😂😂😂😂)

••••••••••••••••••••
Tips untuk anda yang suatu kali jadi penerjemah:

  1. Pasang telinga tajam
  2. Jika terjadi kesalahan fatal jangan malu jadi down. Penerjemah juga manusia, jadi bisa salah.
  3. Serahkan semua ke Tuhan.

Akhir kata,

NGGELINDHING WAE!

With Denise Glenn (Kardo Ministry)

From left: Dad, my sister, Denise Glenn, David Glenn, Me, Mom, my sister’s bf.

I Am Not Alone.


Beban hidup rasanya berat ya? Seperti membawa bola dunia itu dengan dua tangan kita. Itu yang kita pikirkan sedang terjadi karena kita terbutakan dengan justru apa yang kita lihat.

Kalau saja kita berani untuk menutup mata sejenak dan masuk dalam ketenangan, pada saat itulah kita bisa menyadari sebuah fakta yang sesungguhnya. Kita tidak pernah sendirian.

Tangan itu memang tidak terlihat. Tetapi tangan itu selalu menggandeng kita. Sekali saja pun tidak pernah melepaskan. Begitu kuatnya tangan itu sehingga sampai saat ini kita tidak jatuh tergeletak dan hilang.

Sekali janji itu terucap, tidak pernah akan diingkari. Percayalah. Dia sangat bisa diandalkan.

Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”

~ Ibr 13:5

Everything Happens For A Reason


Sesungguhnya kalimat itu merupakan suatu kebenaran. Kenapa saya berani menyatakan bahwa itu adalah sebuah kebenaran? Karena firman Tuhan juga mengatakannya.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8 : 28)

Di balik segala sesuatu yang kita alami, Tuhan sedang bekerja. Mungkin kita tidak paham, mungkin saya sendiri tidak paham, tetapi Tuhan tidak pernah berhenti bekerja. Itu adalah suatu kepastian. Kalau kita meminta sesuatu yang baik dari Tuhan, kita tidak mendapatkan yang baik, tapi yang terbaik. Karena itu, ayo bersama saya, kita belajar untuk mengenal konsep ini. Sabar menanti sambil terus berdoa dan bekerja sesuai yang Tuhan mau.

Selamat malam! God bless!