Kamu… Akan Selalu Jadi Sahabatku.


Ada teman yang mendatangkan kecelakaan, tetapi ada juga sahabat yang lebih karib dari pada seorang saudara.

~ Amsal 18:24

Saya bertemu dengan dia saat SMA. Kami berada satu kelas selama dua tahun berturut-turut. Kelas 11 dan 12. Selama SMA, memang dialah yang kerap kali banyak curhat, dan saya seperti biasa (sampai sekarang; untuk siapapun) menjadi pendengar. Dari A sampai Z tidak terluput untuk diceritakannya. Termasuk ketika dia terjatuh dari motor dan terluka, dia dipaksa papanya untuk memakan lobak yang pahit dan amis yang dia tidak suka. (Masih inget kan, Mim? 😝)

Namanya Yemima Rosa Putri Bungaa, papanya dari Maluku, mamanya asli Jawa. Kesan yang membuat saya tertawa pertama kali mengenalnya adalah ketika salah satu teman sekelas kami bertanya mengapa namanya BungaA bukan BungaB. Goodness! (Maaf, ya, Mim. Aku kalo inget masih ngakak. πŸ˜‚) Oh ya, suaranya juga khas. Mungkin kalau diibaratkan vokal, dia memiliki berbicara pada oktaf ke-5, seperti Mariah Carey atau Celine Dion.

Dulu saya termasuk seorang introvert yang memilih untuk melakukan segala sesuatunya sendiri. Saya tidak takut kalau harus tidak punya teman. Mungkin Yemima tidak sadar bahwa dia membawa pengaruh yang besar dalam hidup saya. Dialah yang membuat saya mau bersosialisasi. Karena apa? Ketika melihatnya berteman dengan semua teman sekelas kami, saya merasa iri.

Eits..

Bukan iri yang negatif, tetapi yang mendorong saya untuk menjadi makhluk sosial. Hahaha. Karena dia juga, saya bisa maju menjadi pimpinan dan orang penting dalam organisasi Kristen di sekolah. (Nggak percaya kan, Mim? Hahah. Nggak papa. Nggak ada hadiahnya juga. πŸ˜…πŸ˜†)

Perjalanan kami cukup panjang sih. Terlalu banyak kalau harus dituliskan. Nanti saya malah menulis novel. Hahahah. Intinya, dia itu sungguh-sungguh berdampak dalam kehidupan saya.

Oh, hampir lupa. Dia juga yang membuat saya tidak menyesal masuk di SMA kebanggaan kota Semarang itu. Karena jujur saya, selama saya bersekolah disana, saya merasa jadi robot dan kurang merasaan kebahagiaan masa SMA seperti yang orang sebut-sebut. Untung ada Yemima… Saya setidaknya punya kenangan yang membekas di hati. πŸ˜‚

Sudah sekitar 10 tahun saya mengenalnya, dan dia betul-betul mengalami transformasi yang luar biasa. Saya melihat sahabat saya ini sebagai sosok yang keibuan dan memiliki kasih yang begitu besar kepada anak-anak yang kehilangan kasih orang tua di sekitar lingkungan rumahnya. Dia juga menikah dengan seorang pria yang luar biasa dan sejalan dengan visi dalam hidupnya. Melihatnya ada rasa haru dan bahagia dalam hati saya.

Saya mengasihi dia, dan saya bersyukur pada Tuhan karena saya mengenal dia.

(** kaya berasa mau pisah ya, Mim. Cuman merasa perlu menulis ini. Nanti kalau terlanjur tua nulis kan nggak asik. 😌πŸ˜ͺπŸ˜‹πŸ˜†)

And this song is for you:

“Hey Friend”

(My) Life As A Teacher


Oi! Udah lama bener yak sejak saya terakhir nulis blog? Kkkkk. Siang ini saya lagi ngerasa kepingin banget nih untuk sedikit berbagi tentang pengalaman saya saat mengajar di SMA. Well, tentu saja dengan cara yang nggak boring, ’cause I’m attractive, baby. Hahahahaha. Pokoknya, enjoy aja nih. Barangkali bisa ngilangin stress kamu.

1. Iya. Ada kelas (-kelas) yang saya sebetulnya kepingin hindarin. Isinya anak-anak yang ramenya… Ajeb deh. Saking nggak nahan, saya pernah pukul penghapus ke whiteboard keras banget, bikin telinga berdarah. Ampun dah.

2. Gini nih ekspresi kalo mereka nggak bisa diminta diem. Asli, anak-anak SMA tapi kaya anak TK kalo saya bilang waktu itu saking keselnya. Akakakaka.

3. Sampai akhirnya saya bilang, “Oh oke. Ngomong aja terus, tapi kamu nggak akan istirahat.” Terus ketawa jahat. (Tapi ini nggak berlangsung lama. Soalnya kan saya juga butuh istirahat keles. Jadi saya punya cara lain. Guru kreatif getoh.)

4. Oh iya, di awal saya mengajar, sempat saya berpikir untuk diem aja sampe mereka diem. Dan somehow, cara ini berhasil. (Karena tatapan tajam saya mengandung racun mematikan yang dapat membuat mereka tak berdaya seketika. Miahahaha. 😈 *enggak ding)

5. Di antara mereka yang berisiknya melebihi tante-tante rempong tukang gosip, ada yang model gini nih. Mau dipindahin kemana aja tuh anak duduknya, jadinya percuma. Malahan anak-anak yang pendiem di sekitar dia jadi rame. Ommmoooo. Dia sungguh seorang pionir. Standing ovation for this kid.

6. Belum lagi anak yang nyalahin temennya kalo ditegur supaya diem. Amplop dah.

7. Tapi nih, hahaha, ada yang saya suka. Karena ketika saya capek, ada murid yang bantuin saya untuk bikin mereka yang berisik diem, dengan teriak kenceng sampe sekelas hening dan bening membuat pening.

8. Nih, nih. Selain stok mulutnya banyak, ada juga yang lari kejar-kejaran kaya anak SD. Mereka tuh pantatnya ambeien atau gimana sih?

9. Kadang stress itu juga bukan disebabkan mereka yang ribut aja, tapi mereka yang tanya instruksi yang saya kasi tepat setelah saya selesai bicara. Cicak! Mereka nih tadi ngeliatin saya dengan seksama ngapain? Mengagumi keindahan saya?

10. Atau juga, anak yang dateng ke meja saya. Saya seneng kan, “wah ada anak yang rajin nih. Pasti mo tanya tentang pelajaran.” Tapi pas udah di depan muka saya, dia bilang, “Miss, kapan kita selesai pelajaran supaya bisa jalan-jalan keluar kelas?” Saat negara api menyerang, nak. Dia pikir ini mall apah? Jalan-jalan kata dia. Ckckck.

11. Belum lagi kalo pas tes nih, anak-anak tanya cara mengerjakan soal. Padahal instruksi udah jelas layaknya kristal yang bersinar terang di kertas ujian mereka. Wah, mereka ini kebiasaan nggak pernah baca deh.

12. Karena saya mengajar bahasa Inggris, pertanyaan ini juga diberikan ke saya. “Miss Yo, harus nulis pake kalimat lengkap nggak?” Padahal dari awal saya mengajar, saya selalu bilang, “Nak, nak, jangan samakan kelas saya dengan kelas Inggris kamu yang sebelumnya. Peraturan saya hanya satu dalam menjawab. Jawablah dengan benar.” Ugh. Apa sih susahnya mengingat satu hal ini?

13. Ada juga nih anak yang antara males atau hang, jadi ketika dikasi penjelasan tentang sistem kelas dan penilaian dengan gamblang dan bahasa yang sangat dimengerti oleh manusia, tiba-tiba tanya, “Kalo ngerjain PR bisa nambah nilai akhir ya, Miss?” Astajim. Ini anak. Tobat, nak. Tapi habis itu anak itu rajin sih ngerjain PR. Cuman saya nggak bisa dibodohin lah (maklum, saya merangkap pekerjaan sebagai FBI), dia copy kerjaan temennya dari kelas lainnya yang bukan sejurusan, tapi saya lacak 😎 dan dia menjadi tersangka plagiarisme maka saya kasi nilai 0!! Mulai saat itu dia nggak plagiat lagi. Cuman kerjaannya nggak bisa dideskripsikan dengan dengan kata-kata. Tahu lah ya maksudnya?

14. Waktu pengumpulan tugas juga nih. Bikin kepala puyeng. Mana ada tuh yang pura-pura lupa kalo udah harus ngumpulin. Beribu alasan tingkat dewa lagi. Ish. Saya balas aja ketika waktunya bagiin nilai, dan dia nggak dapet punya dia. Dia tanya ke saya, kok nggak ada punya dia. Saya jawab aja, “Wah, saya lupa kamu murid saya.” Hahahaha. Tapi itu cuman becanda. Saya sebetulnya udah koreksi. Iya lah. Saya kan guru yang begitu sabar dan baik hati kepada semua murid saya. Unch unch.

15. Lucunya, pas tiba akhir semester, anak-anak kan pasti minta tuh ke saya kisi-kisi ujian, nah disinilah saya memberikan wejangan yang begitu bermakna bagi mereka, dan saya yakin mereka sangat terkenang-kenang. “Mau naik kelas? Belajar woy.”

16. Ah, ada juga suatu kali satu grup murid yang mau skip kelas. Ceritanya itu di akhir-akhir semester kan. Biasanya kelas tinggal review. Nah karena nggak ada materi, mereka mau noh main ke kelas sebelas. Diem-diem mau keluar kelas. Kirain saya nggak tahu karena ada banyak anak kelilingin saya waktu jelasin pelajaran ke mereka? Saya langsung aja panggil nama mereka satu per satu. Mereka kaget, karena saya nggak lihat tapi kok tahu siapa aja yang berniat keluar. Nggak tahu aja mereka ini siapa gurunya? Mehehehe. 😏 Langsung mereka balik duduk lagi dan ngobrol deh.

17. Dua tahun saya mengajar, saya menemukan bahwa dalam setiap tugas bergrup ada anggota model begini: (1) Anak yang kerjain semua tugasnya, (2) Anak yang nggak ngerti mau ngerjain apa, (3) Anak yang katanya mau bantu tapi ternyata cuman bantu doa, dan (4) Anak yang menghilang ketika diajak kerja. Astaganaga. Makhluk seperti mereka ada yah?

18. Sebagai seorang guru, saya diharuskan untuk menulis rancangan pembelajaran di awal semester mengenai apa saja dan strategi yang bagaimana saya akan lakukan di kelas-kelas saya sepanjang tahun ajaran. Nah, karena kasus-kasus tak terduga di kelas, nggak jarang saya harus kreatif untuk bikin anak-anak untuk pahami apa yang saya ajarkan. Terutama untuk bikin mereka diem dulu. Maka pertemuan beberapa kelas sering keluar dari rancangan pembelajaran. Ehehehehe. Peace.

19. Yang paling ngenes tuh sebagai guru tuh yah, waktu koreksi kerjaan anak-anak. Bayangkan ada 5-6 kelas, isinya 30-an anak. Ommooo. Saya pernah ngajar 152 anak dan harus koreksi esai mereka dalam waktu seminggu doang! Alhasil sejak saat itu saya pasang strategi untuk nggak nyusahin diri sendiri. Salah satunya minta mereka tulis karya di blog dan saya tinggal menilai di sana. Aha! Technology helps! Terima kasih, wahai. siapapun yang sudah mengembangkan teknologi!

20. Bisa dibilang hasil saya mengajar SMA membuat saya menjadi gila. Ahahaha. Nope. Bukan gila dalam arti negatif yah. Tapi gila karena saking ‘menyenangkannya’ saya terus belajar setiap hari untuk menjadi sosok guru yang berhasil mencerdaskan siswa dengan cara yang kreatif dan nggak kolot. Mengikuti jaman gitu lah. Bahkan ada yang sampai saling mengenal secara pribadi, dan bisa bicara heart to heart.

Makasih loh yah, semua mantan anak-anak murid saya. Saya tahu kalian tidak menyesal pernah mengenal saya. Kalau sampai menyesal itu salah sendiri, aku deketin kamu menjauh. #apaanseh? πŸ˜‚πŸ˜‚

Intinya, my life as a teacher di SMA tentu kasi dampak yang besar banget buat saya. Terlebih karena ketika kalian lulus, saya dapetin adek-adek baru yang beranekaragam bentuk dan sifat! Ahahahaha. 😝😜

I never regret that God once called me there.

I never regret that God stopped me from giving up in the first year.

I never regret that God introduced me to those who are ALSO precious in His sight.

Jasa Penerjemahan Indonesia-Inggris MURAH BANGET


Joan Marshall.jpg
Bulan-bulan begini biasanya mahasiswa tingkat akhir pada butuh bantuan untuk translate abstrak kan? Cuman Rp 20.000,- aja, dan kamu akan dapatkan terjemahan yang siap untuk dipublikasikan di skripsi/tesis kamu.
Β 
Mau terjemahkan seluruh skripsi/tesis? Atau dokumen lain? Mulai dari Rp 30.000,- aja per halaman. )*
Β 
JUST TEXT ME VIA FACEBOOK. (Lihat bagian kanan halaman ini >>)
.
.
.
.
Β 
)*disesuaikan konten dan format

Seberapa Banyak?


“Tuhan, aku berdoa supaya lulus dengan nilai tinggi.”

“Tuhan, aku berdoa punya pekerjaan yang terbaik.”

“Tuhan, aku berdoa dapat pasangan hidup yang sepadan dengan aku.”

“Tuhan, aku berdoa keluargaku tetap harmonis.”

~

Semua itu adalah doa yang sering kita ucapkan kepada Tuhan. Saya pun menjadi salah satu orang yang melakukannya. Firman Tuhan sendiri berkata bahwa “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu” (Matius 7:7). Jadi tidak salah kan kita berdoa seperti itu?

Tidak salah. Tapi coba perhatikan ini.

β€’β€’β€’

“Suatu kali, mama saya memasak sup jagung yang lezat sekali. Saya baru bergabung ke meja makan setelah keluar dari kamar saya. Melihat yang lainnya sudah siap makan dengan mangkok terisi sup, saya pun membuka lemari untuk mengambil mangkok saya sendiri. Sayangnya, mangkoknya habis dan saya harus mencuci lebih dulu untuk mendapatkan mangkok yang besar. Namun saya terlalu malas untuk mencuci sehingga saya memutuskan untuk menggunakan mangkok satu-satunya yang tersisa, yaitu yang kecil. Di dalam panci yang besar itu masih tersedia banyak sekali sup yang mama memang sediakan untuk dihabiskan kami sekeluarga, namun karena mangkok saya kecil, tentu saja saya tidak bisa sekaligus menuangkan banyak sup sesuai porsi saya. Alhasil karena merasa kurang, saya harus mengambil sup beberapa kali setiap kali sup di mangkok kecil itu habis.”

β€’β€’β€’

Kita berharap dan berdoa pada Tuhan untuk sesuatu hal terjadi. Tetapi seringkali kita hanya memberikan sedikit ruang untuk Tuhan bekerja. Alasannya bisa jadi karena sibuk, kecapekan, atau yang paling parah, lupa.

Mintanya besar, tapi yang disediakan sedikit. It won’t work. Tuhan kita itu Tuhan yang teratur. Dia juga bukan Tuhan pemaksa.

Sup jagungnya banyak loh, tapi yah menikmatinya sedikit-sedikit kalau mangkoknya kecil. BerkatNya banyak, tapi menikmatinya sedikit-sedikit kalau kita sendiri tidak memberikan ijin sebebas-bebasnya untuk Dia berkarya.

Apakah selama ini sudah sering berdoa untuk berkat, kesembuhan, pemulihan, dan lain sebagainya, tapi rasanya seperti segala sesuatu berjalan lambat? Ini dia kesempatan untuk cek diri sendiri.

Dalam waktu 24 jam sehari, lebih banyak memberikan waktu untuk hal-hal pribadi atau mencari Tuhan? Lebih banyak kuatir dan bimbang akan masa depan atau percaya penuh pada sang Pemilik alam semesta dan Sumber segala yang baik?

Kita bisa belajar dari perempuan Sunem yang sering mendapat kunjungan dari nabi Elisa. Karena ia percaya nabi Elisa itu datang dari Tuhan, maka ia menyediakan ruangan khusus baginya.

Berkatalah perempuan itu kepada suaminya; β€œSesungguhnya aku sudah tahu bahwa orang yang selalu datang kepada kita itu adalah abdi Allah yang kudus. Baiklah kita membuat sebuah kamar atas yang kecil yang berdinding batu, dan baiklah kita menaruh di sana baginya sebuah tempat tidur, sebuah meja, sebuah kursi dan sebuah kandil, maka apabila ia datang kepada kita, ia boleh masuk ke sana.

Apa yang terjadi pada perempuan Sunem itu dalam hidupnya? Dia awalnya mandul bertahun-tahun, tapi dia menyambut Tuhan yang ada dalam nabi Elisa, sehingga ia mendapat anak. Anaknya suatu kali mati, tapi karena ia percaya pada Tuhan, anaknya hidup kembali.

Tuhan kita itu hebat dan ajaib. Mari berikan ruangan selebar-lebarnya untuk Tuhan berkarya dalam hidup kita, maka kita akan merasakan karyaNya yang betul-betul besar. Ayo sediakan mangkok yang besar, tidak perlu makan sup sedikit-sedikit lagi.

Jadilah puas, rasakan sensasi yang sungguh menjadi anak Raja di atas segala raja!

Sakit Hati


P.S. Saya tidak sedang sakit hati, hanya baru menonton film Korea jadi terinspirasi. 😍

P.S. (Lagi) Saya bukan penggemar film Korea, hanya belajar bahasanya. Wkwk. πŸ˜‚

~~~~~~

Apa yang biasa orang lakukan pertama kali saat merasakan sakit hati? Berdasarkan pengamatan saya selama ini, ada beberapa tipe orang sakit hati.

1. Menangis dalam diam, lalu mengurung diri. Terjadi perubahan sikap. Biasanya buruk. Depresi kali.

2. Tertawa terbahak-bahak, padahal menyimpan luka. Terlihat seolah tidak terjadi apa-apa. Sakitnya hilang kapan tidak tahu, yang penting orang lain tidak tahu.

3. Saking sakitnya, kabarin seluruh dunia lewat sosmed. Awalnya memang sedih, tapi habis itu bisa lupain masalahnya. Kalau ngerasa sakit lagi, bikin status lagi. Perhatian orang lain yang membuat tenang.

Kamu tipe yang mana?

Ehehe. Enggak ding. Ini bukan macam kuiz. Hanya membagikan pengamatan dan pendapat saja.

Kenapa saya tulis 3 tipe itu? Ya memang sih itu belum tentu akurat. Saya kan cuma tulis berdasarkan pengamatan saya saja. Tetapi mau percaya atau tidak, 3 tipe itu yang paling mendominasi manusia sejak dulu sampai sekarang.

Balik lagi. Kenapa saya tulis 3 tipe itu? Karena saya mau menekankan bagaimana reaksi seseorang dalam menghadapi masalah adalah yang menentukan apa yang terjadi selanjutnya.

Tentu benar bahwa tidak seorangpun yang tidak pernah melewati yang namanya sakit hati. (Tapi juga benar tidak semua orang pernah sakit liver. Mehehehe. Beda lagi. πŸ˜‚) Yang membedakan adalah reaksi yang diberikan.

Boleh lah ketika ada masalah jadi merasa sedih atau menolak merasa sedih dengan cara apapun. Tidak ada yang salah dari dua hal itu. Hanya saja semua orang perlu sadar apa yang bisa terjadi setelah reaksi yang diberikan itu.

Sederhananya, dari pendapat saya sendiri nih ya, sama-sama mengeluarkan energi, kenapa tidak pilih yang positif saja? Eits. Bukan yang asal positif ya, tapi yang benar. Ini nih satu lagi yang belum saya keluarkan dari tipe-tipe di atas.

4. Memang merasa sakit, bisa jadi diam, nangis atau ketawa, tapi habis itu doa, besoknya (besok= lusa, seminggu, sebulan, etc. ) bisa senyum lagi. Ada kekuatan tak terlihat yang perlahan menyembuhkan luka.

Sakit hati? Tidak perlu lari kemana-mana. Satu sumber saja kok. Pergi ke yang ciptakan hati. Jangan ke tukang reparasi hati.

Ibarat gigi lubang nih, pergi ke dokter gigi untuk ditambal. Apakah giginya jadi baru? Tidak. Cuman ditutupin saja lubangnya, padahal masih ada.

Kalau pergi ke sumbernya, dikasi noh hati yang baru, sukacita yang baru, damai sejahtera yang baru. Pokoknya semua yang tidak bisa diberikan dunia ini, ada di penciptanya.

Ayo, semua yang sakit hati, come to Papa. Mau sembuh total kan? Jangan tunggu-tunggu lagi. Bergerak. Cepat. Sekarang. πŸ˜‰

~~~~

P.S. (Lagi lagi) Saya juga pernah sakit hati, dan tipe 4 ini saya lakukan. Trust me, it works!

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”
Matius 11:28 TB

Have Your Way in Me


“Have Your way in me.”

Pernah dengar kalimat ini kan?

Itu tuh di lagu “Lord, I give You my heart“. Dan disini, ‘have Your way in me’ diartikan sebagai ‘nyatakan jalanMu’.

‘Nyatakan’ disini bukan berarti hanya sekedar kata-kata proklamasi (to proclaim/state). Tetapi maksud yang benar adalah ‘menjadikan nyata’ (to make something true/realize). Lagu ini berkata, “Tuhan, jadikan jalanMu itu nyata di dalamku.”

Apakah selama ini sadar maksud sebenarnya adalah seperti penjelasan di atas? Atau sekadar bernyanyi tanpa tahu dengan jelas?

Dalam keseharian, terkadang kita juga melakukan hal serupa. Kita berdoa, tapi tidak tahu esensi doa itu sendiri. Kita membaca Alkitab, tapi tidak benar-benar melakukan firman yang kita baca.

Kalau kita mendengar berita demi berita hari-hari ini, banyak sekali yang membuat kita takut dan gentar. Bagaimana tidak? Bencana terjadi dimana-mana, rasa kemanusiaan semakin pudar, teknologi semakin canggih bahkan membuat bulu kuduk berdiri, belum lagi hal-hal supranatural yang tidak bisa dipercaya.
Manusia itu memang ciptaan Tuhan yang derajatnya paling tinggi, tapi bukan berarti kita sempurna. Kita semua tahu itu dengan jelas. Bahkan kita semua tahu benar bahwa kita butuh Tuhan. Hanya saja… tidak semua benar-benar melibatkan Tuhan dalam hidup. Akibatnya, berbagai macam hal buruk dalam kehidupan tak terhindarkan.

Itulah mengapa, setiap hari kita perlu meminta Tuhan untuk menyatakan jalanNya dalam hidup kita. Roh Kudus adalah nahkoda yang hebat. Tidak pernah tersesat meski tidak ada cahaya sedikit pun atau badai besar menerpa. Tidak pernah terkatung-katung di lautan, tapi selalu sampai tujuan.

Nah, sudah tahu FAKTA semacam ini, kenapa tidak datang pada Tuhan? Mari kita meminta Tuhan selalu menyatakan jalanNya.

Hear me out. Kita tidak akan pernah menyesal ketika kita berkata pada Tuhan, ‘have Your way in me.

Selamat siang! Tuhan Yesus memberkati.

“Make me know Your ways, O Lord; teach me Your paths.” (Psalm 25:4)

Such Sweet Reward


There can be such sweet reward, when we wait upon the Lord.”

Secuplik lirik Sandi Patty “In His Presence” di atas menjadi the most played song (lagi) beberapa hari ini. Setiap kali mendengar bagian ini, rasanya ada ucapan syukur mengalir dalam hidup saya.

Ketika tinggal diam dalam hadirat Tuhan, kedamaian, sukacita, kenyamanan, bukan hadir hanya saat dalam posisi menyembah Tuhan saja, tetapi justru setiap saat. Inilah jaminan yang dapat dipegang dan dipercayai selalu.

Such sweet reward” bukan hanya mengatakan tentang sesuatu yang abadi, tidak terlihat yang akan kita terima ketika kita setia duduk di kaki Tuhan. Namun itu juga termasuk hal-hal kecil di dalam kehidupan kita.

Ada satu kejadian yang baru beberapa hari lalu saya alami dan membuat saya begitu terkagum pada Tuhan Yesus.

~~~~

Jadi, hari itu adalah hari wisuda S2 kekasih saya. Saya mau memberi kejutan pada dia dengan datang ke kampus demi memberikan sebuah hadiah wisuda. Namun, saya sendiri ada acara di pekerjaan saya sampai siang. Pada waktu saya bertanya pada kekasih saya tentang acara wisuda, dia berkata bahwa acara sudah selesai dan tinggal foto-foto.

Saya betul-betul bingung apakah saya bisa memberi kejutan atau tidak. Setelah berkonsultasi dengan mama yang akhirnya berkata “kalah menang coba datang saja, kalau tidak bertemu ya sudah”, saya pun memutuskan untuk naik GoCar ke kampus dia yang letaknya cukup jauh dari lokasi saya berada.

Dengan iman saya menuju kesana. Sempat ada sedikit kendala karena akses menuju ke kampus itu sudah sempit ditambah ada perbaikan jalan, sehingga saya pun sampai di lokasi setelah 45 menit lamanya. Belum lagi ditambah dengan panggilan telepon saya yang tidak dijawab-jawab oleh kekasih saya (*ternyata hape yang satu lowbatt jadi dimatikan, sementara hape lainnya di dalam tas yang dibawa papinya*) guna menanyakan posisi keberadaannya.

Sampai di depan kampus, terlalu banyak mobil dan motor sehingga mobil GoCar tidak dapat masuk. Pada akhirnya saya berjalan memasuki area kampus.

Begitu luasnya kampus itu sehingga akan sulit rasanya menemukan batang hidung kekasih saya. Saya berkata pada Tuhan, “Tuhan, saya sudah sampai disini, saya tidak mau ini menjadi sia-sia.”

Kemudian hikmat Tuhan turun atas saya. Yang pertama saya cari adalah mobilnya. Kemudian yang kedua adalah plat nomornya. Info dari mama saya, plat nomornya adalah 8911. Saya pun berjalan menyusuri kampus, setelah bertanya pada seorang bapak dimana auditoriumnya. Beliau memberikan arah yang menurut saya kurang jelas, sehingga saya mencari jalan lain.

Banyak persimpangan jalan, saya tidak tahu arah yang benar kemana. Saya pun bertanya pada Tuhan lagi, “Kemana, Tuhan?” Secara ajaibnya badan saya berbelok ke arah kanan dan saya mulai menengok setiap sudut demi menemukan mobil tersebut. Tidak lama, saya melihatnya tapi… plat nomornya berbeda, bukan 8911 tetapi 8711. πŸ˜‘

Saya masih bertanya pada mama saya apa nomor yang benar. Mama hanya berkata lagi, dua digit belakang adalah 11. Dengan iman pun saya mendekati mobil itu seraya melihat pengemudi di dalamnya. Gawatnya, kaca mobil terlalu gelap untuk menembus pandang ke dalam. Saya awalnya berpikir bahwa mobil tersebut terparkir, sampai akhirnya mobil itu bergerak maju.

Seketika saya agak merasa was-was, tetapi saya lihat kondisi sedang macet maka tidak mungkin mobil berlalu dengan cepat. Pada saat yang sama, saya merasa betul-betul yakin di dalam hati ada suara berkata “itu mobilnya”.

Lokasi dimana saya berjalan dan jalan yang dilalui mobil-mobil dipisahkan oleh sebuah selokan yang lebarnya sekitar satu meter. Saya pun berjalan mundur, agar kekasih saya (yang saya yakin sedang menyetir) melihat saya. Dalam hati saya berkata, ‘ayo lihat kesini, ayo lihat aku disini’. Namun beberapa menit berselang, belum juga kaca jendela turun. Saya sedikit merasa goyah awalnya, lalu saya memutuskan untuk berpaling dan berjalan lurus ke depan.

Namun belum berapa detik saya berpaling, saya mendengar nama saya dipanggil dengan keras. Maka, saya pun kembali berbalik ke arah tadi dan menemukan kekasih saya sudah membuka pintu, bukan hanya jendela. (Berasa drama Korea πŸ˜†) Saya pun berjalan ke arahnya sambil tersenyum, lalu tanpa memikirkan bahwa saya sedang memakai rok, saya melompati selokan yang cukup lebar itu tanpa terjatuh. (Puji Tuhan πŸ˜‚) Setelah itu saya menjabat tangannya singkat lalu masuk ke dalam mobil dimana kedua orang tuanya menyambut hangat kedatangan saya yang (saya yakin) tampak sangat berantakan dengan rambut tertiup angin dan keringat deras mengalir.

~~~

Seperti itulah kira-kira singkatnya (πŸ˜‚) dan sederhananya pertolongan Tuhan. Bisa saja saya tidak bertemu kekasih saya dan kejutan saya gagal. Namun, semua orang yang dekat padaNya dan mengasihiNya tidak akan pernah kecewa. Itu janjiNya.

Biarlah sedikit cerita yang saya bagikan ini menjadi inspirasi untuk teman-teman agar dekat dengan Tuhan senantiasa.

Tuhan Yesus memberkati!

And He said, “My presence will go with you, and I will give you rest.”
~ Exodus 33:14-15 ESV