Ada Apa dengan Mom? (Chapter 1)


Siang yang panas. Hari ini, untuk kelima belas kalinya aku pindah rumah. Ini semua karena Mom yang tidak tahan untuk tinggal diam setelah kematian Dad tiga tahun yang lalu. Mom adalah orang yang super sensitif. Maka dari itu, ketika Mom tersinggung akan sesuatu di daerah dimana kami tinggal, Mom langsung memutuskan untuk pindah rumah. Alasannya, agar masalah tidak datang lagi. Tapi kenyataannya….sama saja.
” Bellinda! Bellinda Bradley! Jangan berlama-lama di mobil!” seru Mom.
Kali ini, kami pindah ke rumah bertingkat dua yang cukup besar di Miami. Namun kali ini, kami jauh dari tetangga. Entah kenapa Mom memilih untuk tinggal di tempat yang sepi, padahal aku tahu sekali kalau Mom tidak suka keadaan yang sepi. Kuharap ini karena Mom tak mau lagi menghabiskan uang untuk berpindah rumah akibat sifatnya yang super sensitif itu. Semoga saja.
Aku selesai menata barang-barangku. Seperti yang sudah biasa kulakukan, aku tidak mengeluarkan semua barang-barangku, aku tetap meletakkannya dalam koper, untuk berjaga-jaga kalau-kalau kami akan pindah lagi, aku sudah siap untuk meninggalkan tempat baru ini.
Sehari sesudahnya, aku masuk ke sebuah sekolah menengah atas yang letaknya tidak terlalu jauh dari rumah. Lagi-lagi sekolah baru, teman baru, guru baru, seragam baru dan buku baru. Aku sudah terbiasa dengan semua itu, jadi itu bukanlah sebuah masalah lagi bagiku.
”Nona Bradley,” seorang wanita setengah baya yang menjadi kepala sekolah. ”Apakah anda memiliki arsip yang lengkap dari sekolah anda sebelumnya?”
”Maaf Bu, saya tidak memiliki rapor dari sekolah saya sebelumnya karena ada beberapa masalah yang membuat saya kehilangan rapor saya,” jelasku.
”Kudengar, ini yang kelimabelas kalinya anda dan ibu anda pindah rumah. Apakah karena itu?” tanya beliau.
”Benar Bu,” jawabku. ”Tapi ini baru pertama kalinya saya kehilangan rapor, Bu. Sebelumnya tidak pernah sama sekali.”
”Kau tahu? Kau beruntung karena kau kehilangan rapor saat masih berada dalam semester awal di kelas sepuluh,” kata beliau. ”Untuk itu, aku dapat mengatur soal rapormu itu. Tapi aku perlu ibumu. Kenapa dia tidak mengantarmu masuk sekolah di hari pertama?”
”Karena ibu saya sedang mencari pekerjaan, Bu,” jawabku. ”Tapi untuk itu, ibu tidak perlu mengkhawatirkan saya, karena saya sudah terbiasa tidak ditemani selama dua tahun terakhir ini.”
”Kalau menurutku, ibumu adalah seorang ibu yang tidak berperikemanusiaan. Setidaknya dia mengantarmu sampai di depan pintu ruangan ini,”kata beliau kesal, seolah mengerti apa yang kurasakan.
”Ibu saya adalah seorang ibu yang menyayangi anaknya. Sampai suatu ketika, ibu saya berubah semenjak ayah saya meninggal,” jelasku singkat. ”Oh, maaf, tidak seharusnya saya menceritakan masalah saya kepada anda.”
”Sebenarnya, itu tidak masalah jika kau ingin bercerita. Tapi baiklah kalau begitu, pergilah ke kelasmu. Ibu Christine, yang menjadi wali kelasmu akan mengantarmu,” kata beliau.
Akupun berjalan menuju kelasku bersama Bu Christine. Di sepanjang perjalanan aku berpikir, kenapa aku bisa menceritakan masalahku pada Bu Nadine, kepala sekolah itu. Entah kenapa, aku merasa ada sesuatu yang aneh di tempat ini.
Brruuk! Aku menabrak seseorang dan terjatuh.
”Kau baik-baik saja?” seorang anak laki-laki mengulurkan tangannya padaku. ”Maaf kalau aku sudah menabrakmu.”
Akupun menyambut uluran tangannya dan berdiri.
”Tak apa. Ini salahku. Aku yang tidak melihat jalan,” kataku sambil membersihkan bajuku. ”Terima kasih.”
”Benar kau baik-baik saja? Kulihat lenganmu terbentur keras tadi,” tanya Bu Christine.
”Jangan kuatir, Bu, saya baik-baik saja,” jawabku.
Kami pun kembali melanjutkan perjalanan kami menuju ke kelas X-9. Tapi senyum anak laki-laki itu sudah membuatku terpesona.
”Anak-anak, perhatian! Hari ini kita kedatangan teman baru,” seru Bu Christine. “Perkenalkan dirimu, nak.”
Aku memperkenalkan diriku kemudian duduk di sebelah gadis yang duduk di depan dekat pintu masuk.
”Kudengar, kau ini baru saja pindah rumah untuk kelimabelas kalinya ya?” tanya gadis itu tiba-tiba.
”Bagaimana kau bisa tahu?” aku tersentak.
”Aku terbiasa menguping pembicaraan kepala sekolah bila ada anak baru yang masuk ke sekolah ini,” jawabnya santai. ”Oh ya, ngomong-ngomong, anak laki-laki yang bertabrakan denganmu adalah pujaan gadis-gadis di sekolah ini, namanya Nick. Oh ya aku Mitzy.”
Mendengarnya, bunga-bunga indah yang bermekaran dalam hatiku seolah berguguran satu persatu. Karena aku tahu bahwa aku pasti bukan apa-apa untuk bisa menjadi pacarnya. Karena apakah yang ada dalam diriku yang bisa dibanggakan? Aku hanyalah seorang gadis remaja biasa berkemampuan terbatas. Lebih baik mulai dari sekarang aku harus berusaha melupakannya.
Hari demi hari berlalu, aku tetap saja tak bisa melupakan Nick. Dia sepertinya sudah membiusku dengan senyumannya.

”Mom, ayo temani aku membeli sepatu baru,” pintaku.
”Sayang, maafkan aku. Sayangnya aku tak bisa hari ini,”kata Mom.
”Kenapa Mom? Tapi aku perlu kau untuk memilihkanku sepatu yang paling bagus,” aku merengek. ”Please…,”
”Ini uangnya, terserah kau mau beli yang mana saja, Belinda, putriku sayang,”kata Mom.
Kurasa rengekanku sudah tak ada artinya lagi. Karenanya, aku pun memutuskan untuk pergi sendirian.

Dari hari ke hari, Mom kelihatan berbeda. Ada sesuatu yang berubah dalam dirinya. Kurasa Mom menyembunyikan sesuatu dariku. Ya, benar. Aku tahu Mom merencanakan sesuatu yang tidak diberitahukannya padaku.
”Hei, Belle, lihat, Nick ada di ujung sana. Dia sedang beristirahat setelah bermain basket,” tunjuk Mitzy. ”Dan banyak gadis mengerubunginya.”
”Oh, sudahlah Mitzy. Aku tahu kau mau menggodaku. Aku tidak akan mempedulikannya lagi,” kataku.
”Yang benar saja. Hampir seluruh gadis dimanapun, bila bertemu dengan Nick pasti langsung jatuh cinta,” katanya. ”Dan kurasa kau salah satunya.”
”Mungkin aku memang jatuh cinta padanya. Tapi aku yakin, sebentar lagi perasaan itu akan segera hilang.” kataku.
”Tapi kau tahu, Belle? Aku merasakan sesuatu yang berbeda darimu, entahlah tapi aku merasa Nick suka padamu,” Mitzy meyakinkan.
” Sudahlah, jangan berusaha menghiburku, teman,” pintaku. ”Lagipula kita harus kembali ke kelas sekarang.”

Hari ini adalah yang kelima kalinya Mom pulang larut malam. Dalam lima minggu ini aku semakin curiga akan apa yang Mom lakukan. Kurasa, aku harus menyelidikinya. Karena, untuk pekerjaan yang hanya memakan waktu sampai siang hari, tidak diperlukan tenaga lebih sampai harus kembali ke rumah larut malam.
Setelah pulang sekolah, aku pergi ke tempat dimana Mom bekerja. Aku bersembunyi di balik sebuah mobil yang tak jauh dari sana.
Jam 03.00 pm aku melihat Mom keluar dari tempat bekerja. Dengan mengendap-endap, aku mengikutinya dari belakang. Setelah sekian lama berjalan mengikuti Mom. Akhirnya Mom berhenti dan menemui…seorang pria!
Oh tidak! Rupanya dugaanku salah. Mom tidak menemui seorang pria. Mom menemui seorang anak laki-laki! Tampaknya mereka juga mesra sekali. Oh Tuhan, jangan biarkan hal ini terjadi. Jangan biarkan Mom menyukai seorang anak laki-laki yang jauh lebih muda darinya, sebagai pengganti Dad. Tapi seharusnya Mom berkata jujur padaku kalau memang ia tak tahan untuk hidup sendiri, tanpa suami, walaupun aku harus memiliki ayah yang umurnya tidak terlalu jauh dariku.
Mom dan anak laki-laki itu naik sebuah mobil yang melaju cepat. Karenanya, aku tidak dapat mengejarnya lagi.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s