The BEST (Chapter 3)


Jam istirahat tiba. Aku berawas-awas kalau-kalau apa yang Kyle katakan benar. Mungkin saja dia benar kalau para siswi akan mengeroyokku.
Tapi, tak ada tanda-tanda dari mereka. Semua berjalan normal-normal saja. Karena itu, aku mengabaikan kata-kata Kyle. Kurasa, dia memang berlebihan. Dia hanya ingin mengerjaiku.
Saat aku keluar dari kelas, rupanya Green, Mandy dan Brenda sudah menunggu.
“Bagaimana keadaan kelasmu?” tanya Green.
“Menegangkan,” jawabku.
“Apa maksudmu?” tanya Mandy.
“Aku duduk sebangku dengan seorang anak laki-laki. Dia berkata padaku agar aku selalu berawas-awas terhadap para siswi di kelasku karena kebanyakan dari mereka yang merasa iri padaku. Katanya, mereka iri padaku karena banyak siswa yang menyukaiku karena prestasiku. Dan anehnya, apa yang dia katakan itu benar. Kejadiannya saat Pak Owen, wali kelasku melakukan absensi, tepatnya saat giliranku dipanggil, semua mata dalam kelasku tertuju padaku,” jelasku.
“Masa sampai begitu, sih?” tanya Mandy seolah tak percaya.
“Ya, kurasa, Mandy juga cantik, tapi tidak berlebihan seperti yang kau ceritakan,” sela Brenda.
“Apa kalian tidak percaya akan perkataanku? Aku tidak bohong,” aku meyakinkan. “Oh, ya. Kyle juga berkata bahwa corak Asia-ku berpengaruh.”
“Apa? Mentang-mentang kau adalah anak yang satu-satunya berketurunan Asia, mereka pikir dapat mengerjaimu?” Brenda mulai geram. “Siapa yang berani mengganggu temanku akan kuhajar habis!”
Semua mata di sekeliling kami, menatap tajam saat mendengar seruan Brenda.
“Brenda, hentikan itu!” pintaku sambil berbisik.
“Tenang saja, Keanne. Aku melakukannya agar mereka tak berani mengganggumu,” kata Brenda. “Panggil saja aku kalau ada yang berani mengganggumu.”
“Brenda, aku tahu kau sayang padaku sebagai temanmu. Tapi kumohon jangan lakukan hal seperti itu lagi karena kau membuatku terlihat lemah di hadapan mereka,” kataku.
“Baiklah. Maafkan aku, Keanne,” Brenda berusaha menahan geramnya.
“Tak apa. Terima kasih untuk pembelaanmu, teman,” kataku.
“Tahu tidak teman-teman? Kita sudah menghabiskan jam istirahat disini. Dan kita tidak jadi ke kantin,” kata Green dengan senyumnya yang manis itu. “Padahal aku kan lapar.”
“Iya, aku juga haus,” sambung Mandy.
“Maafkan aku teman-teman,” kataku. “Gara-gara aku kalian kelaparan.”
“Sudahlah. Demi kau, kami bersedia melakukan apa saja. Kau kan teman kami, iya tidak, teman-teman?” kata Mandy. “And ‘cause we are…”
“THE BEST FOREVER!” kami menyatukan tangan kami dan menghentakkannya ke bawah, seperti yang biasa kami lakukan.
“Okay, kami kembali ke kelas kami ya,” kata Green. “See you.”
“See you,” aku membalas lambaian tangan mereka bertiga.
“Wah, kompak sekali kalian,” kata Kyle saat aku akan berjalan masuk ke kelas.
“Tentu saja!” sahutku riang. “Dan aku mendahuluimu ke tempat duduk!”
Aku berlari mendahuluinya dan duduk di kursiku.
“Na na na na,” aku bersenandung.
Kudengar, beberapa suara berbisik-bisik. Dan kudengar lagi ada tawa-tawa kecil di sekelilingku. Untuk beberapa saat aku berhenti bersenandung. Aku mengamati mereka satu per satu. Tak ada yang mencurigakan. Aku pun kembali bersenandung.
Lama kelamaan, aku merasa tidak enak. Ada sesuatu yang aneh.
“Hey, ada apa? Kenapa kau tampak gelisah?” tanya Kyle.
“Kurasa ada sesuatu yang aneh di kursiku,” aku menduga-duga.
Aku pun mencoba berdiri. Tapi…
“Mmhh! Sulit,” aku mencoba meraih bagian bawah rokku. Jantungku terasa berhenti seketika. “Tidak mungkin.”
“Ada apa?” tanya Kyle.
“Kurasa rokku menempel di kursi,” jawabku.
Kyle tertawa.
“Kenapa tertawa?” tanyaku. “Apa memang benar rokku menempel?”
“Ya,” jawabnya. “Dan kurasa pertempuran sudah dimulai.”
“Apa maksudmu?”
Kyle terus tertawa.
“Jangan tertawa terus. Sekarang bantu aku melepaskan rokku dari kursi,” pintaku pada Kyle. “Huh, rasanya seperti di dalam film-film saja! Mereka tidak kreatif! Bisanya hanya seperti ini! Dasar anak-anak kurang kerjaan!”
Kyle pun membantuku melepaskan rokku dari kursi. Sementara itu, mulutku rasanya belum bisa berhenti untuk mengeluh. Tapi akhirnya, dengan bersusah payah, rokku pun terlepas dari kursi.
Aku mencoba melihat seluruh rokku bagian belakang. “Yah, rokku kotor sekali,” keluhku.
“Untung saja belum ada guru yang masuk. Sekarang lebih baik kau membersihkan rokmu,” kata Kyle.
“Kau benar,” aku pun berjalan keluar kelas, sementara seluruh anak dalam kelas menertawaiku.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s