Perahu, Bawa Aku Ke Rumahku


Perahu.jpg

(Sebuah cerita yang saya tulis ketika mengikuti Lomba Pekan Ilmiah dan Seni Regional Jawa Tengah)

Sukiman hanyalah seorang tukang becak yang hidup sebatang kara. Orang tuanya telah lama berpulang saat ia masih berumur lima tahun. Satu-satunya sahabatnya yang dulu selalu bersamanya dan mendukungnya tiba-tiba saja menghilang saat kerusuhan ’98 terjadi. Ia pun tidak pernah memiliki tambatan hati, sehingga di usianya yang ke-empat puluh tahun, ia masih sendiri. Baginya, apalah arti mencinta jika mendapatkan sesuap nasi saja ia sampai harus meremukkan tulangnya.

Sambil menangis lagi ia berkata, “Kenapa hidup ini tidak adil? Aku mendambakan sebuah tempat yang dapat memberikanku kenyamanan, tapi aku tidak pernah mendapatkannya. Orang bijak pernah berkata bahwa selalu ada harapan, tapi mana? Mana? Seberapapun besarnya kekuatan yang kukerahkan, aku tidak pernah mendapatkannya.

***

“Tolong aku,” seorang anak perempuan berumur enam tahun berlari dengan pakaian compang-camping sambil meraung-raung. Tubuhnya yang penuh luka terbaring tak berdaya di atas tanah berlumpur. “Tolong aku. Tolong.” Dia menangis tersedu-sedu sambil menahan rasa sakit yang tiada henti menerpa.

Ia bukan seorang anak yang nakal, tapi ia selalu mendapat hukuman. Setiap kali ia pulang dari sekolah, bukan pelukan hangat dan senyuman manis yang menyambutnya, tetapi cambukanlah yang setia menemani gadis kecil bernama Rina, seorang anak kelas satu SD.

***

“Iya Pa, pasti aku akan menjaga diri,” seorang gadis berkata kepada ayahnya. Kemudian ia berpaling kepada ibunya, “Dan Mama, jangan menangis lagi. Aku hanya pergi sebentar saja. Piknik sekolah tidak akan memakan waktu setahun. Kalau begitu, Ma, Pa, sekarang aku pergi. Teman-teman dan guruku sudah menunggu.” Ia berpamitan kepada kedua orang tuanya dengan mencium tangan mereka lalu pergi bergabung dengan teman-temannya.

Pemandangan ini melukai hati seorang gadis lainnya yang sedang berdiri di bawah pohon. Dia, Mia, memalingkan wajahnya dari pemandangan itu. Tak sanggup lagi menahan, air matanya jatuh membasahi pipinya saat ia mengingat perpisahan yang terjadi pada orang tuanya bahkan di saat sebelum ia paham akan arti kata keluarga.

Baca lagi di:

Widbook

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s