Everything Happens For A Reason


Sesungguhnya kalimat itu merupakan suatu kebenaran. Kenapa saya berani menyatakan bahwa itu adalah sebuah kebenaran? Karena firman Tuhan juga mengatakannya.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.” (Roma 8 : 28)

Di balik segala sesuatu yang kita alami, Tuhan sedang bekerja. Mungkin kita tidak paham, mungkin saya sendiri tidak paham, tetapi Tuhan tidak pernah berhenti bekerja. Itu adalah suatu kepastian. Kalau kita meminta sesuatu yang baik dari Tuhan, kita tidak mendapatkan yang baik, tapi yang terbaik. Karena itu, ayo bersama saya, kita belajar untuk mengenal konsep ini. Sabar menanti sambil terus berdoa dan bekerja sesuai yang Tuhan mau.

Selamat malam! God bless!

“God Bless You, Miss.”


Ucapan itu baru saja saya dengar beberapa menit sebelum saya mulai menulis blog ini. Ucapan ini keluar dari mulut beberapa siswi kepada salah seorang gurunya saat akan pulang. Kenapa secepat itu saya menulisnya?

  1. Karena saya sedang ada waktu luang. (Haha, tapi bukan ini alasan utamanya)
  2. Karena ucapan ini jarang diucapkan. Jarang diucapkan.

Di lingkungan yang notabene penuh dengan anak Tuhan, tetapi jarang sekali mendengar ucapan ‘God bless you‘ menimbulkan sebuah keadaan yang rasanya miris sekali. Entah kenapa salam ini seolah-olah tabu diucapkan.

Sudah saatnya terjadi kebangkitan anak-anak muda yang takut akan Tuhan. Hanya saja, ada sebuah pertanyaan yang muncul kemudian: siapakah yang mau berdiri untuk memulainya?

Tidak ada waktu lagi untuk berkata, “Ah, nggak ada yang berdiri, masa aku berdiri?” atau “bukan urusanku, yang penting sikapku baik” atau malah mungkin “huh? ada apa sih?

Just a friendly reminder, ayo jadi seperti Yesaya yang berkata “Ini aku Tuhan, utuslah aku.” Mau melakukannya? Ayo lakukan bersama dengan saya.

Nggak Kuat Berdiri? Berlutut Dong.


Hidup manusia itu ibarat perjalanan, yang mana jalannya kadang mulus atau berbatu-batu. Normal sih kalau semisal orang merasa capek jalanin kehidupan. Hahaha. Dalam hal ini, nggak perlu ada perdebatan. Nggak perlu jadi hypocrite juga. Karena kenyataannya memang begitu.

Cuman, yang nggak semua orang tahu adalah ketika masanya tiba di jalan yang berbatu-batu, kekuatan yang dipakai itu harusnya bukan kekuatan sendiri. Kalau pakai kekuatan sendiri sih, capek sendiri. Mungkin parahnya akan berdampak ke keputusasaan dan menyerah pada akhirnya.

“When you can no longer stand, kneel.”

Saya suka sekali dengan quote singkat ini. Masuk akal kan, kalau kita nggak kuat lagi, berserah aja. Berlutut sama Tuhan. Jangan maksain diri jalan terus, toh udah nggak kuat jalan lagi.

Kebanyakan orang Kristen lupa nih. Coba deh instropeksi diri. Tenang. Saya juga kok instropeksi diri. Karena jujur firman Tuhan berkata ‘roh itu penurut tetapi daging lemah’. Makanya nih kita perlu yang namanya kekuatan dari luar. Kekuatan ilahi. Kekuatan yang datangnya dari sorga. Kekuatan dari Roh Kudus.

Ayo, kita sama-sama ingetin diri sendiri lagi, kalau memang rasanya udah nggak kuat, minta kekuatan dan kemampuan dari Roh Kudus. Pasti deh, kita bisa jalan lagi dan bahkan selesai sampai finish line dengan sukacita.

Selamat hari Minggu, Tuhan Yesus memberkati! ūüėČ

Be Perfect? For Real, God?


“‚ÄčYou therefore must be perfect, as your heavenly Father is perfect.”

~ Matthew 5:48 ESV

Perfect? Becoming perfect? Do you think that’s possible?

We have heard that nothing is perfect in this world. We also have heard that no human can be perfect. However, God tells us to be perfect? Why?

See, to my opinion, there’s something to this verse. God has a purpose why He tells us so, because our God is a God of purpose. It’s never like, He just says it and nothing He does for us to make us able.

A couple days ago, my coworker delivered the devotion. She gave a wonderful analogy.

Once, in a class, a Mathematics teacher suddenly came in and told the students to get score above 80. One of the students, inside her heart said, “How can I get 80 if getting 50 is already impossible for me?” She didn’t know what to do until the teacher said, “I’m available for everyone who wants to study Mathematics.”

This student then decided to come to the teacher and asked for extra time study. She always came everyday after school and was willing to go home late only to get good score.

Time went by. Her hard work paid off. What was impossible for her then turned into possibility. She didn’t only get 80. She got the perfect score.

It’s just the same way with all of us. God willingly gives His time for His children to learn from Him and with Him how to be perfect. He never tells us something to do without giving us a way to do it.

Now that you have read this, I am praying that you understand and start coming to the Great Teacher to learn deeper. Last thing I want to say, you and I are going to be the way God wants us to be: Perfect.

Disiplin Rohani


“Satu kata yang menjadi angan-angan setiap orang tapi pada kenyataannya secara umum hanya dapat bertahan dalam waktu yang singkat dan membutuhkan proses yang panjang untuk memulainya.”

Yaelah. Susah amat yak buat disiplin? ūüėā 

Sebenarnya, kedisiplinan itu mudah dilakukan, tapi yang namanya manusia, yang mudah aja jadi susah. Wajar? Hmmmm… Ini dia.

Kenapa kedisiplinan itu susah sekali untuk diterapkan? Karena apa yang seharusnya dilarang dianggap wajar kalau sengaja atau tidak sengaja dilakukan.

Mewajarkan.

Kita sering sekali mewajarkan kesalahan kita. Misal, besok pagi berniat untuk bangun pagi untuk doa dan baca Alkitab sebelum memulai hari, tapi akhirnya susah bangun karena malam sebelumnya tidur sampai larut dengan alasan banyak yang dikerjakan. Lalu kita akan mewajarkan kondisi tersebut.

Coba kita semua ingat tentang sebuah ayat di 1 Korintus 9:25 yang berkata “Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal.

Hidup kita itu sebetulnya sebuah pertandingan. Kita bertanding untuk menjadi yang terbaik. Kita bertanding untuk mendapatkan yang terbaik. Kekalahan bukanlah sebuah pilihan bagi kita. Kenapa? Karena sejak semula kita diciptakan menjadi seorang pemenang, bahkan lebih dari pemenang! Nah, sadar kan sekarang?

Barusan saya menyampaikan renungan pagi ke murid-murid saya. Saya memberi mereka sebuah contoh nyata. Mereka bisa mendisiplin diri untuk melatih kemampuan mereka dalam sebuah game tertentu sampai menjadi pro. Kenapa tidak bisa mendisiplin diri untuk melatih diri dalam hal yang jauh lebih penting dalam kehidupan ini?

Saya bukan orang yang sempurna dan sudah sangat disiplin ketika menulis blog ini. Tapi justru itu, saya mau ajak semua readers untuk sama-sama belajar dengan saya. Let’s see, mana di antara kita yang bisa tetap disiplin. (#miahahahaha).

Selamat hari Senin! Enjoy your day and remain blessed in Christ!

Nggak Ada Waktu Untuk Memuji Tuhan? Pikir Lagi!


psalm14851

Barusan pagi ini di kantor, seorang teman membawakan morning devotion. Firman Tuhan yang dipakai adalah Mazmur 148 dimana keseluruhan isinya membahas tentang biarlah semua yang di sorga dan di bumi memuji Tuhan.

Awal-awalnya saya merasa biasa aja dengan isi devotion itu karena saya memang setuju sekali dengan ucapannya. Namun di akhir-akhir, dia mengucapkan sesuatu yang benar-benar membuat mata saya terbuka. Sebuah kebenaran yang nggak semua orang sadari walaupun sebenarnya semua orang seharusnya sudah tahu. Saya yakin juga bahwa kamu akan setuju dengan apa yang saya akan paparkan setelah ini.

Kalau ada orang yang bilang, “Aku nggak ada waktu nih untuk memuji Tuhan,” atau “kerjaanku banyak banget sampai nggak bisa ngeluangin waktu untuk memuji Tuhan.”

You know what? That’s just a nonsense.

Memuji Tuhan itu nggak perlu yang muluk-muluk kaya harus mainin musik terus nyanyi sampai sejam-dua jam, HEI! Ada banyak cara untuk memuji Tuhan, tahu nggak sih?

Nih ya,¬†semisal kamu¬†lagi ada di jalan terus lihat ada anjing lari-larian sama temen-temennya, kamu bisa bilang, “Wah Tuhan tuh luar biasa ya, bisa nyiptain binatang lucu yang keliatannya kaya boneka hidup.”¬†As simple as that! Itu namanya memuji Tuhan.

Mungkin ada nih yang baca blog ini terus bilang, “Kalau¬†sesuatu yang jelek masa iya bisa memuji Tuhan?”

Saya kasi tahu ya, nggak ada satu pun hal di dunia ini yang nggak bisa digunain untuk memuji Tuhan. Percayalah.¬†Misal nih, kamu¬†lagi enak-enaknya jalan pagi di pinggir jalan, terus tiba-tiba ada truk sampah yang aromanya semerbak me…. (wangi? enggak sih. mungkin lebih ke busuk kali ya), terus kamu bisa aja bilang, “Hmmm, aromanya, ya Tuhan. Makasih Tuhan,¬†hidungku ternyata masih peka untuk ngebedain bau harum sama bau busuk.”

NAH!!! Ya kan?? Nyadar nggak tuh? Segala hal bisa dipakai untuk memuji Tuhan.

Mulai sekarang, ayo sama-sama saya untuk memuji Tuhan melalui segala hal. Dari hal yang kecil sampai yang kompleks sekalipun.

Tuhan Yesus memberkati!

“Jalanmu Bukan JalanKu,” kata Tuhan.


gods-way

Sebelum tidur, saya rasa saya perlu membagikan sesuatu untuk temen-temen. Sebuah kejadian yang terjadi hari ini.

Hari ini ceritanya saya ke kantor imigrasi untuk mengganti paspor. Dari tempat kerja sekitar jam 7.30, naik mobil meluncur membelah jalanan yang cukup ramai dan sampai ke tempat tujuan hanya dalam kurang dari 15 menit. Saya merasa cukup yakin karena segala dokumen sudah saya persiapkan dari hari-hari sebelumnya.

Di kantor imigrasi, mengambil nomor antrian lalu menunggu sekitar kurang lebih 15 menit sampai kantor imigrasi officially buka. Sendirian, cuman otak atik hape sambil nulis blog di WordPress. Yes. (Biasanya dulu kalau beginian selalu sama papa atau mama. Sekarang cewek ini udah jadi wanita. Haha.)

Masalah¬†‘dadakan’ tiba-tiba muncul. KTP asli saya yang¬†di fotocopy pagi sebelum berangkat kerja (gara-gara¬†diberitahu supaya fotocopy KTP di satu lembar utuh bukan potongan), tertinggal di¬†dalam scanner¬†di rumah. Lumayan deg-degan juga jadinya. Saya BBM papa dan mama untuk memberitahu kejadian ini dan masing-masing menasihati saya atas kejadian ini. (“Biar buat pembelajaran ya dek”, “lain kali kalo persiapan¬†jauh-jauh hari”, dsb).

Sepanjang menunggu, saya dalam hati berdoa minta kemurahan Tuhan supaya boleh pakai KTP yang lama, toh semua berkas sebetulnya sudah lengkap. Saya betul-betul berharap keajaiban terjadi.

Menunggu, menunggu dan menunggu sampai sekitar setengah jam baru nomor antrian saya disebutkan. Saya berjalan menuju customer service yang dilayani oleh seorang ibu. Saya memberikan semua berkas lengkap sampai akhirnya diminta untuk menunjukkan KTP asli.

“Boleh¬†nggak ya kalau saya pakai KTP lama¬†cuma untuk menunjukkan?”

“Masa berlaku masih?”

*Disitu saya merasa sedih*. “Enggak, bu.” Lalu saya meringis tak berdosa.

“Wah, ya nggak bisa. Diambil dulu ya. Nanti langsung ke saya nggak usah antri lagi.” Ibu itu tersenyum dengan ramahnya terus baru deh saya tinggal setelah semuanya beres.

Puji Tuhan, papa menyusul ke kantor imigrasi. Papa bantu saya untuk mengambilkan KTP di rumah dan saya bisa menyusulkan KTP. Semua berjalan dengan sangat lancar sampai seluruh proses selesai.

***

Dari kejadian ini, saya belajar (#lagi) bahwa cara Tuhan menolong (sekaligus mendidik) itu tidak seperti yang saya harapkan. Saya berharap bahwa ada keajaiban dimana saya boleh pakai KTP lama. Tetapi Tuhan justru membuat semua orang sangat ramah terhadap saya dan papa saya datang untuk menolong.

Sebetulnya, inti dari semuanya ini adalah PERCAYA SEUTUHNYA sama Tuhan, karena Dia tahu bahwa yang Dia perbuat itu adalah sempurna dan terbaik untuk anak-anakNya.

Apakah kamu percaya seutuhnya?

Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman TUHAN.

– Yesaya 55:8